o1 o2

International


Bali Road Map Dibahas di Bangkok Esok

Minggu, 30 Maret 2008 - 16:16 wib
text TEXT SIZE :  
Share

BANGKOK - Negosiator dari 180 negara besok pagi berkumpul di Bangkok, Thailand, membahas kelanjutan hasil Konferensi Perubahan Iklim PBB di Bali akhir tahun lalu.

Bangkok Meeting dinilai krusial karena langkah awal pembentukan pakta lingkungan baru menggantikan Protokol Kyoto yang habis pada 2012.

"Pembicaraan (di Bangkok Meeting) ini penting, terutama dalam konferensi di Bali.Kami secara formal sepakat membuat aturan baru, ketika aturan baru itu harus bisa disimpulkan pada akhir 2009 nanti," ujar Kepala Badan Pekerja Perubahan Iklim PBB Yvo de Boer, Minggu (30/3/2008).

Para negosiator atau wakil delegasi dari negara-negara sudah tiba di Bangkok sejak pagi tadi. Mereka akan melakukan pembicaraan maraton selama lima hari mulai Senin (31/3) besok.

Pembicaraan kali ini diperkirakan tetap sengit, meski Bangkok Meeting ini tidak diharapkan akan menghasilkan putusan yang jelas dan tegas tentang peran masing-masing negara soal perubahan iklim.

"Apa yang akan dibahas dalam pertemuan ini adalah kita harus menyetujui sebuah program kerja dan menyepakati hal-hal apa saja yang harus kita bahas. Dengan demikian, kita tahu dan yakin deadline sekitar 1,5 tahun (untuk membuat protokol lingkungan baru) bisa terpenuhi," tuturnya.

Wakil Amerika Serikat (AS) juga ikut serta dalam Bangkok Meeting ini. AS adalah negara yang tidak mau meratifikasi Protokol Kyoto, meski mereka penghasil emisi karbon terbesar di dunia.

Konferensi Perubahan Iklim PBB di Bali akhir tahun lalu hampir tidak menghasilkan apa pun akibat sikap keras kepala AS. Delegasi AS sempat diteriaki oleh delegasi lain saat akhir menjelang konferensi di Bali.

AS bersikeras bahwa konferensi Bali yang menghasilkan Bali Road Map sebaiknya tidak mencantumkan target-target yang jelas. Negara-negara maju dan berkembang masih berseberangan di isu krusial terkait perubahan iklim, antara lain siapa yang secara sejarah bertanggung jawab atas perubahan iklim, siapa yang harus menanggung pembiayaan, apakah semua negara harus punya target untuk mengurangi emisi karbon.

Eropa dan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, menginginkan negara-negara kaya menetapkan target. Pada 2020, emisi karbon turun 25-40% dibanding pada 1990.

Beberapa aktivis lingkungan menilai, sikap AS akan berubah atau melunak dalam isu pemanasan global.

Presiden George W Bush diperkirakan ingin meninggalkan warisan yang baik pada tahun terakhir masa kepemimpinannya. Bush tidak ingin dicap sebagai presiden yang menentang kemajuan atau perlindungan terhadap bumi dan lingkungan. (sindo//jri)

Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terikini lewat http://m.okezone.com
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com/okezone.jad 
Share
o1 o2
o1 o2

Berita Lainnya

o3 o4