BANGKOK - Para negosiator dari 163 negara hari ini berkumpul di Bangkok, Thailand, membahas kelanjutan hasil Konferensi Perubahan Iklim PBB di Bali akhir tahun lalu.
Tantangan yang dihadapi para negosiator itu adalah mengontrol pemanasan global tanpa menimbulkan kerugian bagi perekonomian dunia.
Para perwakilan negara akan berkumpul selama satu pekan, dalam forum yang dipimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu, guna menyepakati pembentukan pakta lingkungan baru menggantikan Protokol Kyoto yang habis pada 2012.
Di hari pertamanya, para delegasi mulai membahas efek gas rumah kaca seperti karbon dioksida, yang disalahkan akibat meningkatnya suhu dunia. Para ilmuan menyatakan, pengeluaran gas buang harus dikurangi untuk menghindari efek buruk dari pemanasan Bumi, seperti banjir, kekeringan, meningkatnya ketinggian air laut, dan badai.
Yvo de Boer, sekretaris eksekutif UN Framework Convention on Climate Change, yang memimpin pertemuan Thailand ini mengatakan, tantangan yang dihadapi adalah mengurangi emisi gas buang dan tidak menimbulkan kerugian secara ekonomi dan politik. Demikian seperti dilansir Associated Press, Senin (31/3/2008).
Seluruh negara, termasuk Amerika Serikat, sepakat emisi harus dikurangi untuk menghindari bencana lingkungan. Namun negara dengan tingkat polusi tertinggi mengingatkan perlunya ditempuh cara terbaik untuk mencapai itu.
Seperti diketahui, Konferensi Perubahan Iklim PBB di Bali akhir tahun lalu hampir tidak menghasilkan apa pun akibat sikap keras kepala AS. Delegasi AS sempat diteriaki oleh delegasi lain saat akhir menjelang konferensi di Bali.
AS bersikeras bahwa konferensi Bali yang menghasilkan Bali Road Map sebaiknya tidak mencantumkan target-target yang jelas. Negara-negara maju dan berkembang masih berseberangan di isu krusial terkait perubahan iklim, antara lain siapa yang secara sejarah bertanggung jawab atas perubahan iklim, siapa yang harus menanggung pembiayaan, apakah semua negara harus punya target untuk mengurangi emisi karbon.
Eropa dan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, menginginkan negara-negara kaya menetapkan target. Pada 2020, emisi karbon turun 25-40% dibanding pada 1990.(jri)
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com/okezone.jad