Obama Berada di Posisi Aman Menuju Konvensi
Rabu, 14 Mei 2008 - 06:56 wib
WASHINGTON  - Pertarungan merebut posisi nominasi calon Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat antara Senator Hillary Clinton dan Senator Barack Obama memasuki tahap-tahap akhir bulan ini.

Selasa waktu setempat atau hari ini waktu Indonesia, Hillary dan Obama bertarung di West Virginia, sebuah negara bagian kecil yang tidak terlalu berpengaruh dengan hanya 38 suara delegasi. Jajak pendapat American Research Group menunjukkan Hillary akan memenangi pemilihan di West Virginia dengan perbedaan angka yang begitu besar 66% lawan 23%.

Begitu juga dengan pemilihan berikutnya di Kentucky, 20 Mei, jajak pendapat Universitas Suffolk menunjukkan Hillary unggul atas Obama dengan perbedaan suara 58% lawan 31%. Dengan angka tersebut, Obama tidak begitu gencar melakukan kampanye di West Virginia kemarin.

Dia hanya berpidato sekitar 30 menit di Charleston dengan sambutan yang begitu meriah dari para pendukungnya. Obama kini lebih fokus pada negara bagian Oregon, Montana, dan South Dakota. Bagi Obama, West Virginia dan Kentucky tidak begitu penting lagi walaupun dia masih mampu merebut sebagian kecil suara delegasi di dua negara bagian itu.

Dengan keunggulan 1.864 lawan 1.697 suara delegasi atas Hillary, Obama berada dalam posisi aman dengan enam negara bagian tersisa hingga awal Juni mendatang. Jika saja Hillary merebut keunggulan di tiga negara bagian, West Virginia, Kentucky, dan Puerto Rico, jumlah perolehan suaranya belum cukup untuk mengungguli Obama. Obama diprediksi akan memenangi pemilihan di Oregon, Montana, dan South Dakota.

Kemenangan itu sudah cukup untuk mencapai angka 2.025 suara delegasi, jumlah minimal untuk merebut tiket ke konvensi partai. Peluang Obama semakin besar juga setelah sejumlah anggota delegasi luar biasa mulai berpaling dari Hillary dan mendukungnya.

Perhitungan AP terakhir menunjukkan Obama merebut 276 suara delegasi luar biasa, sedangkan Hillary 271. Masih ada sekitar 250 suara delegasi luar biasa yang belum menentukan sikap, tetapi banyak yang melihat tren tersebut mengarah pada Obama. Sementara itu Hillary menyatakan, sejumlah pihak mendesaknya mengakhiri persaingan memperebutkan tiket ke Gedung Putih.

"Tapi mereka tidak memahami politik karena West Virginia merupakan bukti nyata. West Virginia merupakan sebuah keputusan yang mengirimkan pesan rakyat tentang apa yang Anda inginkan dari presiden Anda selanjutnya," ujar Hillary di Clear Fork, West Virginia.

Mantan ibu negara itu tetap bersikeras menolak mundur dan mengatakan tidak ada satu kandidat Demokrat pun sejak 1916 yang memenangi pemilihan di Gedung Putih tanpa menang terlebih dulu di West Virginia. Sementara itu, mantan anggota parlemen dari Partai Republik Bob Barr berambisi maju merebut kursi presiden sebagai kandidat Partai Libertarian.

Keterlibatan Barr dapat mencuri sejumlah suara pendukung kandidat presiden dari Partai Republik John McCain. Menurut Barr, McCain ataupun Barack Obama tidak akan dapat mengendalikan pemerintahan AS yang terlalu kuat setelah serangan 11 September.

"Satu suara untuk status quo itu sangat nyata dan jelas membuang suara karena itu tidak akan mampu melakukan apa pun," kata Barr. Analis politik dari Southern Methodist University Cal Jillson menilai, suara pendukung Obama dan McCain tidak akan terlalu terpengaruh dengan munculnya seorang kandidat Libertarian.  (sindo//fit)
250x208 250x250