WASHINGTON - Amerika Serikat dan India berencana menandatangani kerjasama nuklir pada Jum'at pekan ini. Ini merupakan penandatanganan kerjasama nuklir sipil pertama sejak 30 tahun terakhir.
Seperti diberitakan Reuters, Rabu (8/10/2008), saat penandantangan, pihak AS akan diwakili oleh Sekretaris Negara Condoleezza Rice. Sementara India akan diwakili Menteri Luar Negeri Pranab Mukherjee. Penandatangan sendiri akan dilakukan di Washington.
Nantinya, India berhak mendapat akses dalam teknologi bahan bakar nuklir, reakto, serta teknologi pendukungnya. AS sempat menghentikan kerjasama nuklir dengan India pada 1974, terkait rencana India yang melakukan uji coba senjata nuklir.
Menurut konfederasi industri India, nilai kesepakatan kerjasama tersebut sebesar USD27 miliar atau sekira Rp265,6 triliun untuk membangun 18 hingga 20 reaktor nuklir dalam 15 tahun.
Sementara itu Presiden George W Bush yakin, kesepakatan ini akan menjaga hubungan strategis antar kedua negara demokrasi. Menurutnya, nuklir akan membantu India memenuhi kebutuhan energinya. Kesepakatan ini juga akan membuka peluang keuntungan miliaran dolar AS di bisnis nuklir.
Kesepakan ini sempat menuai kecaman dari berbagai kalangan, mengingat India tidak termasuk negara yang menandatangani Non-Proliferation Treaty. Ini akan menimbulkan spekulasi, India akan merusak daya saing di bisnis energi nuklir global.
Tak hanya AS, minggu lalu, Prancis juga mengumumkan telah menandatangani kerjasama nuklir dengan India. Sementara Rusia sudah lebih dulu membangun reaktor berkapasitas 1.000 megawatt di selatan negara bagian Tamil Nadu.
Media lokal India melaporkan, Nuclear Power Corp perusahaan monopoli nuklir India, telah menyepakati kerjasama secara tentative dengan empat perusahaan suplaier, termasuk dengan Westinghouse Electric dan Areva Prancis.
India juga menjajaki kerjasama dengan General Electric, Hitachi Jepang dan agen energi atom Rusia Rasatom.
(ton)