Suasana di mansion tempat pembahasan STARTdi Moskow (Reuters)
MOSKOW - Rusia dan Amerika Serikat hari ini memulai pembicaraan resmi membahas pengurangan persediaan senjata nuklir. Langkah tersebut dianggap bakal mencairkan hubungan di antara dua musuh bebuyutan semasa Perang Dingin ini.
Presiden AS Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev bulan lalu telah sepakat untuk meneruskan kesepakatan pelucutan senjata nuklir, yang akan menggantikan Traktat Pengurangan Persenjataan Strategis (START I) yang diteken pada Juli 1991 oleh Presiden George Bush dan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev. START I akan berakhir pada Desember mendatang.
Pembicaraan yang digelar di sebuah mansion di pusat Moskow tersebut harus menyepakati isu-isu teknis yang rumit mengenai senjata nuklir.
"Kami berupaya mencapai dialog yang konstruktif dan berharap optimisme yang ditunjukkan kedua pihak akan dapat menemukan hasil yang praktis," sebut seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Rusia yang tidak diungkap identitasnya, seperti dilansir Reuters, Selasa (19/5/2009).
Saat tiba di lokasi pembicaraan, para negosiator dari kedua negara enggan memberikan pernyataan. Menteri Luar Negeri Rusia juga menolak berkomentar.
Asal tahu saja, START I merupakan kesepakatan bilateral pengurangan persenjataan nuklir terbesar sepanjang sejarah. Kesepakatan itu hasil dari satu dekade perundingan alot antara AS dan Uni Soviet pada tahun-tahun terakhir Perang Dingin.
Traktat itu menegaskan, kedua pihak dapat mengerahkan 6.000 hulu ledak nuklir dan tidak lebih dari 1.600 kendaraan pengangkut strategis, termasuk rudal-rudal balistik antar benua, kapal selam, dan pesawat pengebom.
START merupakan kesepakatan lanjutan setelah Perundingan Pembatasan Persenjataan Strategis (SALT) yang diberlakukan sejak 1969 hingga 1979.(jri)