Barack Obama menyampaikan pidato di Cairo University, Mesir, Kamis (4/6/2009).
YERUSALEM - Kuatnya desakan komunitas internasional agar pembicaraan damai Israel-Palestina, segera dimulai. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu merasa perlu menyampaikan pidato politiknya, hari Minggu mendatang.
Israel juga didesak untuk menghentikan pembangunan permukiman Yahudi di tanah Palestina di Tepi Barat maupun Yerusalem. Tak hanya itu, permukiman yang sudah dibangun pun harus dihancurkan.
Desakan semakin komplit setelah Presiden Amerika Serikat barack Obama kembali menegaskan dukungan terhadap berdirinya negara Palestina dalam pidatonya yang disampaikan di Kairo, Mesir, pekan lalu.
Isi pernyataan Netanyahu itu kemungkinan berisi respons dari pidato Obama di Cairo University. Berikut tuntutan Obama terhadap Israel yang dikutip dari Reuters, Selasa (9/6/2009):
Israel harus menerima keberadaan negara Palestina.
Dalam pidato itu, Obama menyatakan agar Israel mengakui hak "Palestina untuk eksis". Sejak dilantik Maret lalu, Netanyahu tidak pernah menggunakan istilah "negara" untuk menyebut Palestina. Bahkan Netanyahu menolak mengakui kesepakatan Peta Jalan Damai yang sudah disepakati kedua negara dengan perantara Amerika Serikat pada 2003.
Memulai dialog perdamaian Israel-Palestina.
Obama menginginkan Netanyahu dan pemimpin Otoritas Palestina Mahmoud Abbas berdialog. Sebelumnya Netanyahu menawarkan pendahulunya untuk bertemu dengan Abbas. Namun Abbas menolak segala pembicaraan dengan Israel sebelum negara Yahudi mengakui solusi dua negara dan menghentikan pembangunan ekspansi permukiman baru.
Yang menjadi masalah kemudian adalah, apa isu yang akan dibicarakan dalam pertemuan itu. Pasalnya Netanyahau sudah menyatakan lebih berminat membicarakan ekonomi, keamanan, dan isu politik dan tidak menyinggung masalah permukiman.
Jika yang dimaksud dengan Netanyahu dengan "politik" itu berarti struktur pemerintahan Otoritas Palestina, para diplomat menyatakan, itu tak akan membuat AS puas. AS menginginkan pertemuan langsung menyentuh kepada isu utama, yaitu "negara Palestina".
Menghentikan pembangunan permukiman.
Dalam pidatonya di Mesir, Obama jelas-jelas mengecam pembangunan permukiman Yahudi di wilayah pendudukan Tepi Barat. Sementara Netanyahu permukiman itu diperlukan untuk mengakomodasi pertumbuhan penduduk. Keinginan Netanyahu itu didukung oleh kelompok pemerintahan Israel, terutama dari sayap kanan.
Pembangunan permukiman di Yerusalem.
Obama bergabung dengan Uni Eropa dan Perserikatan Bangsa-Bangsa memprotes penghancuran rumah-rumah warga Palestina di Arab Timur Yerusalem. Belum jelas bagaimana netanyahu akan bermanuver di tengah desakan kuat internasional ini. Pasalnya Netanyahu sudah berjanji tidak akan menerima pembatasan pembangunan kantong-kantong Yahudi di wilayah yang disebut Israel sebagai ibu kota, Yerusalem, termasuk wilayah Arab Timur Yerusalem dan sebagain wilayah Tepi Barat yang direbut sejak perang 1967.
Mencabut Blokade di Gaza.
Obama juga menginginkan Netanyahu mencabut blokade atas Jalur Gaza yang sudah berlangsung sejak Juni tahun lalu. Namun Netanyahu menganggap bahwa blokade itu merupakan cara negaranya untuk melemahkan kekuatan Hamas, sebagai penguasa Gaza.
Seluruh perbatasan harus dibuka dan membiarkan PBB serta badan dunia lainnya melakukan perbaikan kondisi ekonomi.(ton)