BEIRUT - Saad Hariri, pengusaha yang juga putra mantan Perdana Menteri Rafiq Hariri yang dibunuh, dijagokan untuk memimpin Lebanon setelah koalisi 14 Maret yang digawanginya memenangi pemilihan umum.
Hariri diperkirakan bakal menjadi calon kuat menggantikan sekutunya, Perdana Menteri Fuad Saniora. Demikian dikutip dari Press TV, Rabu (10/6/2009).
Koalisi Hariri yang pro-Barat mengalahkan koalisi 8 Maret yang dimotori Hezbullah dengan dukungan Suriah dan Iran pada pemilihan umum hari Minggu 7 Juni lalu. Koalisi 14 Maret memperoleh 68 kursi, sementara koalisi 8 Maret mendapatkan 57 kursi dari 128 kursi yang diperebutkan. Tiga kursi lain diperoleh kelompok independen.
Kekhawatiran terhadap semakin luasnya pengaruh Iran membuat para pemilih Kristen mengalihkan suara dari koalisi Hezbullah yang berhaluan Syiah ke kelompok Hariri yang berhaluan Sunni.
Pemimpin Hezbullah Hassan Nasrallah mengakui hasil pemilihan umum itu dan menawarkan kerja sama dengan kelompok pemenang.
"Kesempatan untuk membangun sebuah negara yang kuat dan adil masih ada. Semua sepakat bahwa ada krisis yang menghadang kita di semua level," kata Nasrallah. "Kita berada di pentas yang baru dan dalam situasi yang baru."
Dalam pidato kemenangannya, Hariri mengajak rakyat Lebanon untuk "saling berpegangan tangan satu sama lain, menyingsingkan lengan baju, dan bekerja sama demi kebaikan Lebanon."
Di bawah aturan konfensionalisme Lebanon, seorang perdana menteri haruslah seorang Muslim Sunni, wakil perdana menteri seorang Kristen Ortodoks, presiden seorang Katolik Maronit, sementara seorang ketua parlemen seorang Muslim Syiah.
Sistem tersebut dimaksudkan untuk menjamin agar konflik sektarian dapat dihindari, dan secara adil mewakili distribusi demografis aliran-aliran keagamaan dalam pemerintahan. Pembagian itu merupakan hasil persetujuan tidak tertulis tahun 1943 antara presiden (Maronit) dan perdana menteri waktu itu (Sunni), dan baru diformalkan melalui konstitusi pada 1990.
(jri)