SEOUL - Korea Utara (Korut) memperingatkan "awan gelap perang nuklir" sudah menggayuti Semenanjung Korea. Peringatan itu muncul di tengah memanasnya hubungan Korut dan Korea Selatan.
Peringatan Pemerintah Korut ini dikeluarkan mereka dalam sebuah ulasan panjang memperingati meletusnya Perang Korea, 25 Juni 1950, di Rodong Sinmun. Dalam surat kabar corong pemerintah itu, Korut menuduh Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel) sudah bersatu untuk memprovokasi terjadinya perang baru di Semenanjung Korea dengan persenjataan nuklir.
"Situasi mencemaskan kini sudah tercipta di Semenanjung Korea dengan adanya awan gelap perang nuklir yang menggantung semakin tebal setiap jamnya," demikian yang ditulis Rodong Sinmun.
Dalam dua bulan terakhir, situasi di Semenanjung Korea memanas setelah Korut meluncurkan roket jarak jauh April silam. Mereka juga mengaku berhasil menguji coba senjata nuklir akhir Mei lalu. Situasi semakin panas setelah Korut terus melancarkan perang urat syaraf kepada Korsel dan AS serta berulang-ulang memperingatkan kemungkinan meletusnya perang antara Korut dan Korsel.
Peringatan ini kembali ditegaskan Pyongyang di Rodong Sinmun kemarin. "Perang bisa pecah setiap saat. Selama AS masih menerapkan kebijakan permusuhan, kami tidak akan menyerah dalam soal nuklir bahkan akan terus memperkuatnya," demikian isi surat kabar tersebut.
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dengan dukungan utama AS sudah memberi sanksi baru terhadap Korea Utara terkait program nuklirnya, Jumat (12/6). Salah satu sanksi itu adalah melarang negara komunis itu untuk menjual senjata.
Sehari setelah sanksi ini keluar, Korut membalasnya dengan memberi pernyataan tegas kalau mereka akan membuat senjata nuklir dari plutonium dan senjata atom dari uranium. AS yang menjadi sekutu dekat Korsel sudah berjanji memberikan komitmen serta dukungannya terhadap Seoul dalam menghadapi Pyongyang. Terlebih, AS kini didera kekhawatiran kalau Korut akan menembakkan rudal jarak jauh ke Hawaii pada 4 Juli mendatang, saat AS merayakan hari kemerdekaan.
Konflik Pyongyang dan Seoul bermula saat Korut menginvasi Korsel pada 25 Juni 1950. Invasi ini berakhir pada 1953 dengan gencatan senjata, tanpa ada kesepakatan damai apa pun. Hingga saat ini kedua negara masih dalam situasi perang. Dua negara ini kemudian mengambil ideologi berbeda.
Korsel yang dekat dengan AS dan berideologi kapitalis itu tumbuh menjadi negara industri, sedangkan Korut yang memilih ideologi komunis menjadi negara yang tertutup. Hubungan kedua negara meruncing sejak Presiden Korsel Lee Myung-bak yang konservatif menjabat pada Februari silam.
Dibanding presiden sebelumnya, Lee memilih menggunakan kebijakan yang lebih keras terhadap Korut. Hubungan kedua negara semakin memanas setelah Pyongyang melakukan uji coba nuklir dan menembakkan sejumlah rudal. Di lain pihak, Pemerintah Myanmar membantah kalau mereka sudah mengizinkan kapal Korut yang berisi senjata, mendarat di negara itu, Rabu (17/6) lalu.
Mereka hanya membenarkan kalau kapal kargo lain, MV Dumangan, memang akan tiba di negara itu pada Sabtu (27/6). Kapal Myanmar yang sempat berlabuh di Kolkata, India, ini akan mengangkut 8.000 ton beras.
"Pemerintah menegaskan tidak ada kapal Kang Nam yang meninggalkan Pelabuhan Mingpao, Myanmar, seperti yang diberitakan media asing," kata salah seorang sumber Pemerintah Myanmar.
Pernyataan ini bertolak belakang dari apa yang dikatakan Departemen Pertahanan AS yang menyatakan kapal perusak angkatan laut AS USS John S. McCain sudah mendeteksi keberadaan Kang Nam dari Pelabuhan Shang Hai awal pekan ini.
(Koran SI/Koran SI/jri)