Getting Time...

AS Balik Kritik Ahmadinejad

Sabtu, 27 Juni 2009 10:07 wib
Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Iran. (Reuters)
Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Iran. (Reuters)
WASHINGTON - Pemerintah Amerika Serikat menyerang balik Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad yang dianggap mencari kambing hitam atas krisis di Iran.

Serangan balik Gedung Putih ini keluar sehari setelah Ahmadinejad mengkritik Presiden Barack Obama yang menurutnya sudah ikut campur terlalu jauh dalam politik Iran.

Ahmadinejad juga menyalahkan AS atas terjadinya kekerasan antara demonstran dan pendukung kandidat presiden Iran yang kalah,Mir Hossein Mousavi. Dalam pernyataannya kemarin, Juru Bicara Gedung Putih Robert Gibbs menyerang Ahmadinejad yang dinilainya sedang mencoba membelokkan perhatian publik dengan terus-menerus menyalahkan AS.

"Ada beberapa orang di Iran yang ingin membelokkan permasalahan yang ada. Sepertinya, apa yang terjadi di Iran bukan lagi debat antara Iran dan warganya,melainkan Barat dan AS,"ujar Gibbs. Sebelumnya, Obama mengkritik Iran yang dinilainya tidak bersikap adil dengan memakai kekerasan untuk meredam demonstran yang memprotes hasil pemilu, 12 Juni silam.

Selama protes jalanan yang berlangsung sepekan lebih itu, setidaknya 17 orang tewas. Ahmadinejad kemudian membalas ucapan Obama dengan mengatakan, Obama sudah ikut campur terlalu jauh dalam masalah dalam negeri Iran. Juga menganggap Obama tidak ubahnya seperti mantan Presiden AS George W Bush menyikapi Iran.

Selain mengkritik AS, Pemerintah Teheran mengkritik negara Barat lain seperti Inggris karena dianggapnya sudah memperpanas situasi politik di negara itu. Sementara itu, delapan menteri luar negeri G8 - yang mengadakan pertemuan di Italia - sudah menyatakan penyesalan terkait kekerasan pascapemilu di Iran kemarin. Dalam pernyataan resmi, mereka mendesak Iran menghormati hak asasi manusia dan meminta Teheran menghentikan kekerasan di negara itu melalui dialog demokratis dan damai.

Mousavi menegaskan sikapnya untuk terus memperjuangkan apa yang menurutnya benar, kendati tekanan dan ancaman menghadang. Mousavi meraih 34 persen suara dalam pemilu kemarin, sedangkan lawannya,Ahmadinejad, menang telak setelah mengumpulkan 63 persen suara. Banyak pihak mempertanyakan kemenangan Ahmadinejad ini,terutama pihak yang kalah dan negara-negara Barat.

Pendukung Mousavi kemudian turun ke jalan untuk memprotes hasil pemilu yang dinilainya banyak diwarnai kecurangan. Protes jalanan ini menjadi yang terbesar sejak Revolusi Islam pada 1979. Iran dilaporkan sudah memenjarakan sedikitnya 140 aktivis politik, jurnalis, serta dosen selama kerusuhan.

"Saya tidak akan berdiam diri untuk memperjuangkan hak-hak warga Iran. Saya tidak akan berhenti hanya karena kepentingan pribadi, takut atau ancaman," tandas Mousavi, yang menuntut agar Pemerintah Iran mengadakan pemilu ulang karena diduga banyak terjadi kecurangan.

"Saya tidak bisa mengatakan bahwa hitam itu putih atau sebaliknya. Kita harus jujur," ujar politikus reformis berusia 67 tahun tersebut. Dewan Garda Iran yang mengawasi jalannya pemilu mengatakan sudah menyelidiki adanya dugaan kecurangan suara.

Mereka kemudian menghitung ulang sebagian kertas suara di wilayah-wilayah yang dicurigai terjadi kecurangan, tapi menolak memberi tahu hasilnya ataupun memenuhi permintaan Mousavi untuk menggelar pemilu ulang.

"Kami tidak menemukan kecurangan apa pun yang berarti, dan pemilu kemarin merupakan salah satu yang terbersih yang pernah diselenggarakan Iran," tutur Abbasali Kadkhodai, juru bicara Dewan Garda.
(Koran SI/Koran SI/ton)
TWITTER »
twit