Pemerintah Malaysia Gagal Rekrut PRT Lokal
Anton Suhartono
Selasa, 30 Juni 2009
12:41 wib
KUALA LUMPUR - Rencana pemerintah Malaysia untuk memberi pelatihan warga lokal menjadi pembantu rumah tangga, nampaknya gagal. Majikan tak bersedia membayar upah yang mencapai 2.000 ringgit atau sekira Rp5,7 juta per bulan.
Program yang digulirkan tahun lalu itu bertujuan mengurangi ketergantungan Malaysia terhadap pekerja asing.
Jumlah upah yang diminta itu, empat kali lipat dari upah yang biasa dibayarkan majikan kepada pembantu tenaga kerja asing, termasuk Indonesia yang dibayar rata-rata 400 ringgit. (1 Ringgit = Rp2.800)
"Saya sudah menerima permintaan dari para majikan, tapi mereka hanya mau membayar 400 ringgit per bulan," kata Amirudin Idris, kepala organisasi penyalur tenaga pembantu Karisma seperti dikutip The Straits Times, Selasa (30/6/2009).
Deputi Menteri Sumber Daya Manusia Malaysia Maznah Mazlan saat bertemu dengan anggota parlemen, Senin kemarin, mengatakan program ini membantu mengurangi angka pengangguran di Malaysia. Pemerintah, lanjutnya, menjanjikan standar bayaran yang tinggi sehingga menjadi daya tarik bagi para perempuan lokal bekerja di sektor informal itu.
Namun keinginan pemerintah tak sejalan dengan kemampuan para majikan. Media pemerintah melaporkan berdasarkan survei, hanya 6,7 persen dari total responden warga Malaysia yang mau membayar gaji pembantunya di atas 700 ringgit per bulan.
Di Malaysia sendiri terdapat 320.000 pekerja rumah tangga asing. Sekira 300.000 di antaranya merupakan tenaga kerja asal Indonesia. Pekan lalu, Indonesia mengumumkan rencana penghentian pengiriman sementara tenaga kerja untuk rumah tangga, sampai dilakukan pembicaraan pertengahan Juli mendatang antara kedua pemerintah.
Penghentian itu dilakukan menyusul tindakan kekerasan atas tenaga kerja bernama Siti Hajar oleh majikannya. Gajinya juga tidak dibayar selama belasan bulan.(ton)