Perempuan warga Uighur (Reuters)
URUMQI - Presiden China Hu Jintao hari ini membatalkan rencana menghadiri KTT G8 di Italia dan memilih pulang cepat untuk menyelesaikan kekerasan etnis yang menewaskan 156 jiwa di Urumqi, di provinsi barat laut Xinjiang.
Kementerian Luar Negeri China dalam laman internetnya menyebutkan, Hu meninggalkan China karena kondisi yang memanas di Xinjiang. Selain korban tewas, sejauh ini 1.080 orang mengalami luka-luka dan 1.434 lainnya ditahan dalam kerusuhan antara etnis Han dan kelompok minoritas Muslim Uighur sejak Minggu lalu.
"Anggota Dewan Negara Dai Bingguo akan menghadiri KTT G8 menggantikan Hu," sebut kementerian, dikutip dari Reuters, Rabu (8/7/2009).
Keadaan di Urumqi, ibu kota daerah otonomi Xinjiang, sampai kemarin terus mencekam. Etnis Han dengan senjata tongkat besi turun ke jalan dan mencari anggota etnis Uighur. Situasi ini adalah lanjutan setelah dua hari bentrok etnis yang melibatkan etnis Han China dan Uighur.
Kerusuhan bermula ketika polisi China berupaya membubarkan aksi unjuk rasa damai warga Uighur, yang meminta digelarnya investigasi atas kematian 2 warga Uighur ketika terjadi bentrok dengan para pekerja dari etnis Han di pabrik mainan di Provinsi Guangdong, China Selatan, bulan lalu.
Warga Uighur selama ini telah dipinggirkan secara sistematis dengan masuknya etnis Han ke kawasan Xinjiang, untuk mengeksploitasi minyak, gas alam, dan sumber daya pertanian, sebagai bagian dari kebijakan Beijing.
Sebaliknya, Beijing menuduh warga Uighur kerap melakukan aksi terorisme di Xinjiang, dan mendapatkan pelatihan dari para militan di Pakistan.
Sementara itu dari Italia dilaporkan, pertemuan G8 yang diikuti negara-negara industri dan maju akan mendesak reformasi sistem keuangan global.(jri)