Getting Time...

Di Balik Sikap AS dan Venezuela

Minggu, 26 Juli 2009 12:29 wib
Manuel Zelaya (Reuters)
Manuel Zelaya (Reuters)
HUBUNGAN Amerika Serikat (AS) dan Venezuela memanas kembali setelah kudeta terhadap Presiden Honduras Manuel Zelaya pada 28 Juni silam. Presiden Venezuela Hugo Chavez menghujani Amerika Serikat (AS) dengan kritik dan menuduh Washington mendukung kudeta terhadap Zelaya.

Kritik Chavez baru teredam setelah Presiden AS Barack Obama segera mengecam kudeta militer di Honduras. Namun, tetap saja sikap AS itu tidak membuat Zelaya dapat kembali berkuasa di Honduras. Karena frustrasi dengan kondisi itu, Chavez dan aliansinya kembali menyalahkan Paman Sam.

"Militer Honduras tidak akan berani tanpa izin Departemen Luar Negeri AS. Saya tidak berpikir mereka menjelaskannya pada Obama, namun ada satu kekuatan di belakang Obama," tegas Chavez dalam konferensi tingkat tinggi di Bolivia pada Kamis (24/7) silam, saat Presiden Bolivia Evo Morales dan pemimpin sayap kiri lainnya bertemu dengan menteri luar negeri era pemerintahan Zelaya untuk menunjukkan dukungan.

Morales tetap mengecam Washington terkait kudeta tersebut. Demikian juga dengan Pemimpin Kuba Fidel Castro yang menulis kolom menyatakan, "Ide bahwa Duta Besar AS di Tegucigalpa, Hugo Lorens, tidak tahu tentang kudeta itu merupakan kesalahan mutlak."

"Honduras sangat penting bagi Chavez. Jika Zelaya dikudeta, dia tinggal mengecam Washinton. Jika Zelaya kembali menjabat, saya yakin itu kemenangan bagi Chavez, tapi AS juga akan mengklaim bahwa mereka mendukung pemerintahan demokrasi," papar Daniel Hellinger dari Webster University, Missouri.

Memang, pemerintahan Obama segera menyebut kudeta terhadap Zelaya itu ilegal dan meminta dia kembali menjabat. AS juga langsung menghentikan bantuan militer dan mendorong mediasi konflik dilaksanakan Presiden Kosta Rika Oscar Arias.

Seiring dengan seruan komunitas internasional agar Zelaya kembali menjabat, AS juga mendesak hal tersebut. Namun, seruan AS itu harus dilihat sebagai upaya Washington kembali menguatkan dominasinya di Amerika Latin, termasuk dalam mendukung terjadinya kudeta militer sayap kanan di Honduras.

"Posisi pemerintah sementara Honduras sejauh ini telah menimbulkan kecurigaan terhadap AS," papar John Carey, pakar Amerika Latin di Dartmouth College, New Hampshire.

Meskipun AS merupakan salah satu klien terbesar Venezuela di OPEC, Chavez mengecam Washington setiap dia menyerukan revolusi sosialis. Sebaliknya, AS menggunakan retorika anti-Amerika yang dilontarkan Chavez untuk melemahkan upaya perubahan sosial ala sosialis di Amerika Latin. Hubungan kedua negara itu mencapai titik terburuk selama pemerintahan Presiden AS George W Bush yang mendukung kudeta 2002 di Venezuela. Saat itu Chavez berhasil dikudeta selama dua hari. Untungnya, salah satu faksi di militer masih mendukung Chavez sehingga pemimpin Venezuela itu dapat kembali menjabat.

Potensi Konflik Berdarah

Meskipun saat ini hubungan AS dan Venezuela kembali memanas akibat krisis di Honduras, sebagian besar pengamat tetap berharap ada solusi yang tercapai melalui negosiasi.

Kondisi damai diperkirakan tetap terjaga jika negosiasi menghasilkan kesepakatan untuk menggelar pemilihan umum (pemilu) yang dipercepat, di mana Zelaya atau Presiden Honduras sementara Roberto Micheletti dapat maju sebagai kandidat. Meski demikian, potensi kekerasan tetap tidak bisa diabaikan. Apalagi dengan buntunya negosiasi yang dimediasi Arias.

"Jika situasi tidak berubah dengan cepat hingga Presiden Zelaya dapat kembali memasuki negara itu, Anda akan mendapati bahwa kelompok pendukung pemerintahan de facto dan pendukung Zelaya akan bentrok. Itu merupakan skenario yang tidak dapat diprediksi," papar Eric Farnsworth, Wakil Presiden dan pemimpin Dewan Amerika yang berkantor di Washington.

"Ini akan menjadi skenario yang rumit bagi pemerintahan Obama," kata Farnsworth.

Buntunya proses negosiasi juga dapat membuat Chavez dan pihak asing mendorong kekacauan di Honduras. Sementara Brasil, Peru, Kosta Rika, Meksiko, dan negara lain tidak ingin negara Amerika Tengah itu terperosok dalam kekacauan dan perang sipil, seperti yang pernah terjadi pada 1980-an. Kekhawatiran itu kian besar karena saat ini krisis ekonomi global kian memorakporandakan stabilitas ekonomi Honduras.(Koran SI/Koran SI/jri)
TWITTER »
twit