Malaysia Disebut Sarang Teroris

Senin, 10 Agustus 2009 09:48 wib | Koran SI - Koran SI

Najib Razak (Foto: Reuters) Najib Razak (Foto: Reuters)

KUALA LUMPUR - Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razak menegaskan negaranya tidak terpengaruh oleh tuduhan bahwa Malaysia menjadi tempat berlatih teroris.

Pernyataan itu diungkapkan Najib saat berbicara dalam konferensi pers dan ditanya mengenai tuduhan itu, kemarin. Tuduhan bahwa Malaysia menjadi tempat berlatih teroris itu muncul karena tersangka teror Noordin M Top yang diduga tewas di Temanggung itu berkewarganegaraan Malaysia.

"Malaysia bukan tempat berlatih bagi teroris. Itulah mengapa Noordin M Top meninggalkan Malaysia dan menuju Indonesia," kata Najib.

Terkait laporan bahwa Noordin tewas setelah digerebek polisi Indonesia, Najib menyatakan akan menunggu hasil tes DNA pria yang tewas saat penggerebekan.

"Saya menerima laporan itu, jadi saya tidak ingin membuat kesimpulan apa pun terlebih dulu," tuturnya.

Menyusul dugaan tewasnya gembong teroris Noordin Mohammad Top dalam penyergapan di Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu (8/8), perhatian terhadap Malaysia, negara tempat kelahiran Noordin meningkat. Negara Jiran tersebut dianggap komunitas internasional sebagai sarang teroris.

Apalagi sebelumnya, Indonesia juga berhasil membunuh tersangka teror asal Malaysia lainnya Dr Azahari dalam sebuah penyergapan di Batu, Malang, 2005. Sebagaimana Noordin yang diduga menjadi aktor peledakan bom di sejumlah tempat di Indonesia, terakhir dikaitkan dengan peledakan Hotel The Ritz Carlton dan JW Marriott, Dr Azahari juga diduga kuat sebagai dalang di balik peristiwa Bom Bali 2002.

Menanggapi berbagai komentar miring tersebut, Pemerintah Malaysia keberatan jika negaranya dianggap sebagai sarang teroris hanya berdasarkan fakta satu atau dua warganya terlibat dalam sejumlah aksi terorisme.

"Di setiap tempat terdapat orang baik dan jahat. Hanya karena satu atau dua orang, rasanya tak adil menyebut negara kami sebagai sarang teroris," terang Wakil Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin saat mengakhiri lima hari kunjungan kerjanya di Australia kemarin.

Sambil menunjukkan bahwa aktivitas terorisme juga ada di Amerika Serikat (AS) dan Eropa, Muhyiddin menegaskan, "Bukankah itu berarti setiap wilayah bisa menjadi sarang teroris."

Muhyiddin menjelaskan, Malaysia merupakan negara demokratis dan negara yang terkenal damai selama ini. Berdasarkan catatan tersebut,dia menunjukkan bahwa negaranya bukanlah sarang terorisme. "Malaysia telah melakukan langkah pencegahan sangat efektif," ungkapnya.

Di sisi lain, menanggapi dugaan Australia yang menyebutkan bahwa Malaysia telah digunakan sebagai tempat transit pendatang ilegal dari negara lain menuju Australia, Muhyiddin mengatakan, laporan tersebut tengah ditindaklanjuti.

"Kami juga menaruh penting masalah tersebut. Kami tak mau dicap sebagai tempat transit. Kami akan mengambil upaya tegas untuk menangani situasi tersebut," terang Mahyuddin dalam pernyataannya kepada Bernama.

Sementara itu, terkait dugaan tewasnya Noordin M Top, Perdana Menteri Australia Kevin Rudd mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Republik Indonesia (RI) atas segala upaya yang dikerahkan untuk memerangi pelaku terorisme.

"Saat insiden peledakan bom di Marriott, Jakarta, kembali terjadi, Pemerintah Australia memandang bahwa semestinya kita harus mengerahkan semua sumber daya yang tersedia untuk melacak para pembunuh yang bertanggung jawab terhadap serangan tersebut. Saya berterima kasih atas upaya yang telah dilakukan Indonesia sejauh ini," terang Rudd.

Secepatnya, Rudd berencana menghubungi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait dugaan tewasnya Noordin. Rudd menyampaikan, pemerintahannya telah melakukan kerja sama yang sangat erat dengan Pemerintah RI. "Masih belum jelas siapa tepatnya yang terbunuh dan siapa yang telah di tahan. Kami masih menunggu konfirmasi lebih lanjut dari Pemerintah Indonesia. Namun, ini kembali menjadi lonceng peringatan bahwa ancaman teroris masih tetap ada dan nyata," ungkap Rudd.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Australia Stephen Smith juga menyatakan masih menunggu proses identifikasi kepolisian Indonesia terkait siapa yang terbunuh dalam aksi penyergapan di Temanggung, Sabtu (8/8).

"Berdasar pengalaman saya yang sudah-sudah, sikap terbaik yang harus diambil adalah tidak berspekulasi terlebih dulu, melainkan menunggu sampai semuanya terungkap berdasarkan fakta dan standar operasi," tegasnya.

Karena itu, Stephen mengatakan, Australia masih akan menunggu informasi atau kabar selanjutnya dari Indonesia dan tak akan membuat kesimpulan apa pun.
(Koran SI/Koran SI/jri)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »