PARIS - Menteri Tenaga Kerja Prancis Xavier Darcos hari ini akan menemui pimpinan perusahaan telekomunikasi milik Prancis, Telecom France, untuk membahas tindakan bunuh diri yang dilakukan 23 karyawannya sejak 2008.
Darcos merencanakan pertemuan dengan Kepala Eksekutif Telecom Didier Lombard hari ini. Juru bicara Darcos mengatakan, rencana perusahaan untuk melakukan efisiensi dan sistem peningkatan produktivitas kerja yang tidak pernah mengenal kata istirahat dapat membuat pegawai sangat tertekan. Perasaan tertekan semacam itu bisa saja disusul dengan reaksi emosional yang dapat mengakibatkan para pegawai melakukan tindakan yang tidak masuk akal, bahkan bunuh diri.
Tidak aneh jika kemudian berbagai tindakan bunuh diri terus terjadi di Telecom Prancis. Dalam kasus terbaru, Rabu lalu (9/9), seorang pria berusia 49 tahun, menusukkan pisau ke perutnya sendiri saat sedang rapat yang mengagendakan pemindahan jabatannya. Beruntung, pria ini masih sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis secara intensif dan memperoleh konseling.
Kasus serupa terjadi Jumat lalu (11/9) ketika seorang wanita berusia 32 tahun meloncat terjun dari kantor Telecom, tempatnya bekerja. Aksi nekatnya ini membuat sang wanita tewas seketika. Kematian wanita pegawai Telecom ini menjadi kasus bunuh diri terakhir yang menggegerkan Prancis. Pihak Telecom membantah tudingan bahwa berbagai kasus bunuh diri ini akibat tekanan pekerjaan yang berlebihan. Menurut mereka, angka bunuh diri yang meningkat drastis ini dilatarbelakangi permasalahan pribadi, tidak ada kaitannya dengan masalah pekerjaan.
Faktanya, privatisasi yang dilakukan Pemerintah Prancis terhadap Telecom pada 1998 telah mengakibatkan 40.000 orang kehilangan pekerjaan. Keadaan ini membuat para pekerja merasa tertekan ketika harus dengan berat hati meninggalkan pekerjaannya. Mereka juga gundah ketika akhirnya mendapatkan tawaran pekerjaan baru. Menyusul proses privatisasi ini, sepanjang tahun 2000, Pemerintah Prancis menemukan 28 kasus bunuh diri yang dilakukan pegawai Telecom.
Pengamat menjelaskan, privatisasi menciptakan perubahan kultur dan organisasi sehingga para karyawan harus menyesuaikan dari bentuk perusahaan monopoli publik menjadi perusahaan multinasional yang harus kompetitif. Perubahan inilah yang dapat mengakibatkan banyak karyawan merasa tertekan dan mendapatkan beban pekerjaan lebih besar daripada biasanya. Perusahaan berjanji memberikan layanan konseling lebih banyak.(Koran SI/Koran SI/ton)