Hugo Chavez bertemu PM Rusia Vladimir Putin (Foto: BBC)
WASHINGTON - Amerika Serikat mengkhawatirkan penambahan persenjataan oleh Venezuela, sehari setelah Presiden Hugo Chavez mengumumkan dicapainya kesepakatan pembelian senjata dengan Rusia.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ian Kelly mengatakan kebijakan Venezuela merupakan sebuah tantangan serius bagi stabilitas di kawasan. Dia juga mendesak Venezuela untuk transparan mengenai pembelian senjata.
"Kami mendesak Venezuela untuk transparan dalam pembelian senjata, dan menjelaskan tujuan dari pembelian itu," tegas Kelly, dikutip dari BBC, Selasa (15/9/2009).
Pada Minggu 13 September lalu, Hugo Chavez mengatakan Rusia telah sepakat untuk memberikan pinjaman USD2 miliar guna membeli persenjataan. Uang itu akan digunakan untuk membeli senjata, termasuk 92 unit tank T-72 dan sebuah sistem peluncur roket S-300.
Kesepakatan itu muncul seiring meningkatnya ketegangan antara Venezuela dan Kolombia, menyusul rencana Bogota memberikan akses kepada Amerika Serikat untuk menggunakan sejumlah pangkalan militer.
Kolombia mengatakan pasukan AS akan membantu perang melawan perdagangan obat-obatan dan gerilyawan sayap kiri, dan kehadiran pasukan Negeri Uwak Sam tidak akan mengganggu stabilitas kawasan.
Namun Chavez menganggap keputusan Kolombia untuk memberikan akses bagi AS kepada tujuh pangkalan militer merupakan ancaman bagi keamanan Venezuela. Dengan demikian, cadangan minyak dan gas Venezuela yang melimpah membutuhkan perlindungan militer.
Dia juga menegaskan Caracas berkomitmen untuk mengembangkan energi nuklir dengan bantuan Rusia.(jri)