Hugo Chavez bicara di Majelis Umum PBB (Foto: Reuters)
NEW YORK - Presiden Venezuela Hugo Chavez selama ini dikenal garang dan keras dalam mengkritik kebijakan-kebijakan Amerika Serikat. Namun, pemimpin Amerika Latin ini mengaku menyukai aktor-aktor maupun budaya Negeri Paman Sam.
Dalam wawancara dengan Larry King di stasiun televisi CNN, Chavez membeberkan sisi pribadinya dan mengatakan dirinya mencintai Yesus Kristus serta menyukai aktor seperti Charles Bronson dan penyair Walt Whitman. Dia suka menyanyi, meskipun melakukannya dengan tidak sempurna.
Chavez juga memuji AS dalam pengamanan terhadap dirinya yang mengunjungi New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB. Dia mengaku berbincang dengan petugas keamanan yang menjaganya dan menilai mereka sangat ramah, bekerja efisien, penuh perhatian, dan sangat baik.
Dalam wawancara tersebut, Chavez berbicara panjang tentang sejumlah isu: hubungan Venezuela dengan AS dan harapannya terhadap Presiden Barack Obama; Iran, Israel, dan semua yang membantah keberadaan Holocaust; upaya untuk menggulingkan dan membunuhnya; kritik bahwa dirinya lapar kekuasaan; serta sejumlah isu lainnya.
Chavez, seorang sosialis, berbicara dengan King beberapa jam setelah berpidato di Majelis Umum PBB. Di forum tersebut, dia memuji Obama, namun mengkritik sejumlah kebijakan AS.
Ketika ditanya apakah dia disalahmengertikan di AS, Chavez terlihat termenung.
"Saya adalah seseorang dengan banyak cacat. Saya mencintai. Saya bernyanyi. Saya bermimpi. Saya dilahirkan di daerah pedalaman miskin. Saya dibesarkan di pedalaman, menanam jagung dan menjual gula-gula yang dibuat nenek. Anak-anak saya, dua putri saya bersama saya dan saya ingin sebuah dunia yang lebih baik untuk cucu-cucu saya, untuk cucu-cucu anda," kata dia, yang dilansir CNN, Jumat (25/9/2009).
"Saya adalah seorang bocah altar. Ibu menginginkan saya menjadi seorang pendeta. Saya adalah seorang Kristen taat dan Katolik. Saya sangat beriman. Saya percaya Tuham Yesus Kristus. Saya cinta Yesus Kristus. Saya seorang Kristen. Saya menangis ketika melihat ketidakadilan, anak-anak meninggal karena kelaparan."
Komentar ini terbilang luar biasa, sebab Chavez dan Gereja Katolik berselisih semenjak dia berkuasa pada 1999. Gereja merupakan kritikus utama Chavez, di mana Paus Benedict XVI dan para pemimpin gereja lainnya mengungkapkan kekhawatiran karena melihat upaya Chavez untuk membatasi pengaruh gereja. Upaya Chavez untuk mengubah undang-undang anti-aborsi merupakan salah satu di antara kekhawatiran utama lainnya.
Chavez, sebaliknya, menyebut kepemimpinan gereja sebagai sebuah tumor.
Bicara dalam hal lain, Chavez berharap dapat meningkatkan hubungan dengan Obama. "Namun kami berharap hubungan yang didasarkan pada rasa hormat, hubungan orang-orang di mana kami dihormati," cetusnya.
Namun sejauh ini hal tersebut belum terwujud, kata dia.
"Kebanyakan pemerintahan di AS dalam ratusan tahun tidak menghormati rakyat Amerika Latin," kata Chavez. "Mereka menyeponsori kudeta, pembunuhan. Itu cukup. Kami ingin menjadi saudara dan saudari. Kami menginginkan rasa hormat dan kesetaraan."
Secara khusus dia mengkritik mantan Presiden George W Bush, yang dituduhnya mendalangi upaya pembunuhan dirinya pada kudeta berumur pendek tahun 2002. Chavez memperoleh kembali kekuasaannya dalam beberapa hari.
"Pemerintahan Bush menggulingkan saya. Mereka meminta pembunuhan diri saya. Mereka tidak respek kepada kami. Saya menyaksikan pembunuhan diri saya. Saya adalah tahanan di Venezuela, menjadi seorang presiden. Mereka membawa saya ke tepi laut. Saya berdebat dengan mereka yang ingin membunuh saya. Mereka menerima perintah untuk membunuh saya. Namun padaa saat ini, sekelompok tentara menolak. Mereka tidak membunuh saya, namun saya melihat mereka yang ingin membunuh saya, dan perintah itu datang dari Gedung Putih."(jri)