(Foto: Reuters)
MANILA - Jumlah korban tewas banjir di Filipina melonjak menjadi 240 jiwa, melonjak dari laporan hingga tadi malam sejumlah 140 orang. 37 orang juga dilaporkan hilang.
Tim penyelamat dilaporkan terus berupaya menarik jasad dari sungai, sementara penduduk mulai membersihkan rumah-rumah mereka dari endapan lumpur akibat banjir yang melanda ibu kota Manila dan kota-kota sekitarnya.
Sementara itu, lumpur tebal menghambat proses evakuasi oleh regu penyelamat yang kesulitan menembus wilayah-wilayah yang terkena bencana akibat Badai Tropis Ketsana itu.
Pemerintah menyerukan dibutuhkannya bantuan internasional, sembari menyebutkan tidak dimilikinya sumber daya yang cukup untuk bertahan dari ancaman badai lainnya.
"Tentara, polisi, dan relawan sejauh ini telah menyelamatkan lebih dari 7.900 orang. Namun laporan yang belum dikonfirmasi menyebut korban tewas masih berlimpah," ujar Menteri Pertahanan Gilbert Teodoro, dikutip dari AP, Selasa (29/9/2009).
"Kami berupaya sebaik mungkin untuk menyediakan kebutuhan dasar. Namun kemungkinan terjadinya situasi serius masih ada. Kami tidak bisa menunggu itu terjadi," tambahnya.
Semenjak badai menghantam, pemerintah telah menyatakan bencana nasional di Manila dan 25 provinsi yang dihantam badai. Hal tersebut memberikan pemerintah untuk menggunakan dana darurat untuk bantuan dan penyelamatan.
Presiden Gloria Macapagal Arroyo kemarin mendatangi daerah bencana untuk menenangkan massa. Dia berjanji akan memberikan bantuan secepatnya dan memastikan semua korban mendapat bantuan. Konsentrasi pemerintah saat ini memberi bantuan makanan secepatnya.
Sementara itu pusat peringatan bencana menyatakan Badai Ketsana sudah meninggalkan Filipina dan bergerak ke China selatan.(jri)