(Foto: Press TV)
KABUL - Kelompok Taliban berjanji akan meningkatkan intensitas serangan di Afghanistan menyusul akan dilakukan pemilihan umum presiden putaran kedua, 7 November mendatang.
Pada Rabu lalu tiga aksi bunuh diri terjadi di kantor perwakilan PBB menewaskan enam orang stafnya. Komunitas internasional tetap meyakini serangan Taliban itu tidak akan menganggu pilpres.
Kekerasan di Afghanistan membuat Dewan Keamanan PBB bersikap. Dewan Keamanan langsung melakukan pertemuan Kamis kemarin. Sekretaris Jenderal PBB melakukan pertemuan tertutup dengan 15 anggota DK.
Juru bicara Taliban Yousuf Ahmadi menyatakan pihaknya meragukan pihak terkait mampu menjaga keamanan terkait pemilu. Hal ini sudah terlihat sejak pilpres digelar Agustus lalu. Dia mengatakan pihak keamanan tidak efektif melawan taktik operasi Taliban.
"Kami akan mengintensifkan serangan kami dalam beberapa hari mendatang. Kami akan mengacaukan. Kami memiliki rencana dan taktik untuk menyerang dan menganggu pemilu," ungkap Ahmadi seperti dikutip AFP, Kamis (30/10/2009).
Intimindasi tersebut dinilai berhasil menghalangi penduduk untuk memberikan suaranya. Ini terbukti pada pemilu 20 Agustus lalu, di mana di beberapa provinsi tidak lebih dari 5 persen penduduknya yang memberikan suara.
Sejak pemilu pertama digelar, tercatat hampir 200 kekerasan dengan melibatkan roket dan granat. Serangan sebagian besar dilakukan di hari pemilu dan menyasar tempat-tempat pemungutan suara.
Namun rencana serangan itu diragukan Kementerian Pertahanan. Mereka meyakini serangan Taliban tidak akan segencar pemilu putaran pertama.
Menurut Juru Bicara Kementerian Pertahanan Ahmad Zahir Azimi, musuh telah menyiapkan diri selama berbulan-bulan dengan dukungan pendanaan asing pada pemilu putaran pertama. Namun kali ini mereka tidak memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan diri.
"Para Taliban Pakistan yang saat ini banyak mendukung Taliban Afghanistan, kini sedang sibuk berperang (di negaranya)," tandasnya.(ton)