Seorang pria berjalan di depan lukisan bergambar Yasser Arafat (Foto: Reuters)
RAMALLAH - Yasser Arafat memang telah tiada lima tahun lalu. Namun, sampai saat ini, semangat dan perjuangannya senantiasa dikenang dan menjadi inspirasi seluruh rakyat Palestina.
Lima tahun silam, tepatnya 11 November 2004, Arafat --Presiden Palestina saat itu-- menghembuskan napas terakhirnya. Mengenang lima tahun kematian Arafat, kemarin, ribuan warga Palestina berziarah ke makan bapak perjuangan Palestina di Ramallah. Mereka memanjatkan doa bagi Arafat.
"Presiden Arafat merupakan simbol pemberontakan Palestina. Saya tidak dapat datang ke Ramallah untuk membaca surat Al Fatihah di makamnya," papar Ismail, yang tinggal di sebuah desa terpencil.
Pawai peringatan kematian Arafat di Tepi Barat begitu disambut antusias. Arafat yang meninggal di sebuah rumah sakit Prancis pada usia 75 tahun itu benar-benar berada di hati rakyat Palestina.
Tetapi, kemeriahan pawai di Ramallah itu bertolak belakang dengan yang terjadi di Jalur Gaza. Di wilayah itu, peringatan mengenang Arafat dilakukan secara sembunyi-sembunyi agar tidak memicu perhatian polisi Hamas. Pada peringatan wafatnya Arafat kemarin, Hamas menembak mati tujuh orang di Gaza.
"Sejak Yasser Arafat meninggal, kita merasa sangat terisolasi dari banyak hal," papar pria yang tidak mau disebutkan namanya.
Isolasi itu menyusul sanksi dari Israel dan Mesir sejak Hamas menguasai Gaza. "Isolasi bukan hanya karena pendudukan Israel, tetapi kita mengisolasi diri kita sendiri," katanya.
Kini,semangat dan perjuangan Arafat, seperti tinggal kenangan. Konflik antarfaksi dalam kurun waktu lima tahun terakhir menjadi penghalang utama.
Negosiasi perundingan perdamaian antarkelompok yang tak pernah terealisasi dan kekerasan bersenjata antara saudara sendiri tak pernah berakhir. Idealisme untuk mendirikan negara Palestina yang berdaulat, sepertinya dikalahkan oleh egoisme faksi-faksi yang berkecamuk.
Penerus Arafat, Mahmoud Abbas tak berdaya dengan beragam permasalahan di Palestina. Dia akan mengundurkan diri pada Januari mendatang atas frustrasinya dalam kegagalan membujuk Washington untuk meminta pemerintahan sayap kanan Israel menghentikan pembangunan pemukiman.
Selain itu, Abbas juga dipusingkan oleh gerakan Islam Hamas yang makin mengisolasi Jalur Gaza sejak Juni 2007. Krisis berkepanjangan itu disebabkan sebagian besar rakyat Palestina menganggap bahwa kharisma dan kecerdasan Arafat tidak pernah diikuti oleh para pemimpin Palestina.
"Jika perpecahan itu terjadi pada masa Arafat, dia merasa bahwa dia meninggal sebanyak 10 kali setiap jam," papar kepala negosiator Palestina Saeb Erakat, yang juga pendamping Arafat.
"Keretakan hitam itu merupakan luka yang paling menyakitkan bagi rakyat Palestina," tuturnya.
Selama hampir empat dekade Arafat memimpin perjuangan rakyat Palestina bukan hanya menghadapi Israel dan negara-negara Arab, melainkan juga dengan Hamas. Arafat bukan hanya menuntut kemerdekaan Palestina dengan ibu kota di Yerusalem timur.
Dalam jajak pendapat terakhir, 81,9% penduduk Palestina merindukan sosok Arafat. "Ketika Abu Ammar (nama lain Arafat) masih tegak berdiri, seluruh dunia menghargai kita. Namun, kini kita dalam posisi yang sangat lemah," papar Salim Abu Nadir (36), seorang guru yang tinggal di kota Tepi Barat.
"Sekarang kita seperti sebuah bola yang ditendang oleh banyak pihak, Amerika, Eropa, dan negara-negara Arab yang menekan kita untuk menyerah dengan terhadap berbagai persyaratan Israel," imbuhnya.
Sementara Abbas mengaku tidak akan menggelar pemilu pada 24 Januari karena AS gagal membujuk Israel untuk menghentikan pembangunan pemukiman. Palestina menganggap langkah Israel itu mengancam pendirian sebuah negara.
Kemudian, Hamas masih menyimpan dendam terhadap Arafat atas kekerasan yang dilakukan terhadap kelompok Islam itu pada 1990an. Hamas juga masih menyalahkan Abbas karena tidak melaksanakan keinginan Arafat untuk mengusahakan perjuangan bersenjata.
"Arafat menolak untuk membuat konsesi berdasarkan prinsip-prinsip," papar pejabat senior Hamas Ismail Radwan. "Kita harus membayarnya, tetapi bagaimana kita mampu melindungi persatuan nasional," imbuhnya.
Radwan mengungkapkan bahwa opsi perlawanan merupakan salah strategi bagi rakyat Palestina untuk membela hak-haknya yang ditentang Abbas.(jri)