o1 o2

International


Korut: Korsel Akan Bayar Mahal

Jum'at, 13 November 2009 - 10:14 wib
text TEXT SIZE :  
Share
(Foto: AFP)

SEOUL - Korea Utara (Korut) memperingatkan Korea Selatan (Korsel) akan "membayar mahal" karena telah menyulut baku tembak angkatan laut pekan ini untuk meningkatkan ketegangan di semenanjung.

Peringatan keras Pyongyang itu muncul kemarin setelah baku tembak kedua kapal militer mereka di perbatasan Laut Kuning. Kedua pihak saling menyalahkan terkait pemicu pertempuran singkat yang terjadi sepekan sebelum kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama ke Seoul.

"Pasukan Korsel akan dipaksa membayar mahal karena provokasi militer yang mematikan. Kekuatan artileri Tentara Rakyat Korea (KPA) kini telah diarahkan ke provokator," ungkap kantor berita resmi Korut, KCNA, mengutip sejumlah harian di Pyongyang.

Korsel saat ini telah mengirimkan satu kapal perusak terbaru yang dilengkapi dengan torpedo dan rudal kendali. Kapal itu mendekat ke perbatasan untuk menambah kekuatan dua kapal patroli di sana.

Jurnal Partai Komunis Korut, Rodong, menulis, "Baku tembak itu tidak terjadi tanpa disengaja, tapi merupakan provokasi sengaja militer Korsel untuk mencoba memanaskan ketegangan di semenanjung dan merusak hubungan dua Korea."

Militer Korsel menjelaskan, sebuah kapal patroli Korut melintasi perbatasan dan mengabaikan lima tanda peringatan yang diberikan. Kapal Korut itu lantas menembak ke arah sebuah kapal Korsel yang melepas tembakan peringatan tersebut. Kapal-kapal Korsel lainnya turut menembakkan artileri hingga mengakibatkan kapal Korut terbakar.

"Kapal-kapal Seoul melepas tembakan saat kapal Korut berada di utara perbatasan," ungkap Korut.

Lokasi perbatasan itu merupakan tempat pertempuran berdarah pada 1999 dan 2002. Pyongyang pun mendesak Seoul agar meminta maaf. Demikian sebaliknya.

Korsel lantas menempatkan pasukannya dalam kondisi siaga. Namun, Seoul menyatakan tidak ingin konflik itu merusak hubungan kedua negara. Apalagi dalam beberapa pekan sebelumnya, Korut telah menunjukkan sikap damainya pada Korsel dan AS.

Sejumlah pengamat menduga, Korut ingin menguatkan daya tawarnya sebelum perundingan dengan AS dengan meningkatkan ketegangan di semenanjung Korea.

Utusan Khusus AS untuk Korut Stephen Bosworth dijadwalkan mengunjungi Pyongyang akhir tahun ini untuk mencoba membujuk negara itu kembali ke perundingan pelucutan nuklir. Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengonfirmasi bahwa lawatan tersebut akan tetap dilakukan meski terjadi baku tembak antara kedua Korea di perbatasan laut.

"Baku tembak itu tidak mempengaruhi keputusan untuk mengirimkan Utusan Khusus Bosworth. Kami pikir ini langkah penting yang memiliki alasan tersendiri," kata Hillary.

Surat kabar Pemerintah Korut, Minju Josun, melaporkan, ada fakta bahwa militer Korsel berupaya meningkatkan konflik sebelum kunjungan Obama dan Bosworth. "Dengan melakukan provokasi militer ini, militer Korsel hendak meningkatkan kebencian terhadap kami serta berupaya meyakinkan AS agar tidak mengubah kebijakan untuk memusuhi DPRK (Korut) serta tidak melakukan perundingan langsung AS-DPRK," tulis Josun.

Sumber militer menjelaskan pada media Korsel bahwa seorang tentara Korut tewas dan tiga lainnya terluka dalam baku tembak di perbatasan laut. Namun, pihak Pyongyang tidak mengonfirmasi laporan tersebut. Tidak seorang pun tentara Korsel yang terluka atau tewas, meskipun satu kapal Seoul ditembaki hingga 15 kali.(Koran SI/Koran SI/jri)

o1 o2
o1 o2

Berita Lainnya

o3 o4