Getting Time...

Iran Segera Miliki Pertahanan Rudal

Senin, 16 November 2009 09:49 wib
(Foto: Press TV)
(Foto: Press TV)
TEHERAN - Iran akan segera mampu membuat sistem pertahanan rudal canggih jika Rusia tidak dapat mengirimkan sistem itu ke Teheran. Ancaman Teheran itu muncul karena Rusia ingkar.

Ketua Komite Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional parlemen Iran Alaeddin Boroujerdi memperingatkan hal tersebut kemarin. Ini merupakan isyarat terbaru kemarahan Iran karena Moskow sejauh ini gagal memenuhi kesepakatan penjualan rudal ke Teheran.

Rusia saat ini tampak mendapat tekanan Barat untuk menjaga jarak dengan Iran terkait program nuklir Republik Islam. Kremlin juga tidak melaksanakan proposal untuk menyuplai Iran dengan rudal-rudal pertahanan udara tingkat tinggi S-300.

"Iran bukan sebuah negara yang berhenti melangkah karena tidak ada kerja sama dari negara-negara lain. Secara alami dan dalam sudut pandang kemampuan yang kami miliki, Republik Islam akan mampu memproduksi secara massal sistem rudalnya dalam waktu dekat," tegas Boroujerdi.

Boroujerdi tidak menjelaskan lebih jauh, tapi pernyataannya mengarah pada satu sistem rudal yang memiliki kemampuan setara dengan S-300. Komentar Boroujerdi itu muncul dua hari setelah seorang pejabat militer Iran secara terbuka mengecam kegagalan Rusia untuk mengirimkan sistem pertahanan rudal tersebut.

Pastinya, Washington memang tidak menginginkan Iran memilikinya. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton lantas memuji Rusia bulan lalu karena tidak menjual persenjataan itu pada Iran. Walau sebenarnya, ini juga bertentangan dengan tawaran Barat pada Teheran terkait program rudal dan nuklir Iran.

Washington telah meminta secara khusus pada Rusia agar mengetatkan sanksi terhadap Iran terkait program energi nuklir. Barat menuduh Iran berupaya memproduksi senjata nuklir tetapi tuduhan itu selalu disangkal Teheran.

Mobil truk yang dilengkapi rudal S-300PMU1, yang dikenal Barat sebagai SA-20, dapat menembak jatuh rudal-rudal yang ditembakkan dari kapal atau pesawat tempur. Rudal itu dapat menghancurkan target dalam jarak 150 kilometer dan memiliki kecepatan lebih dari dua kilometer per detik.

Keinginan Iran agar memiliki sistem pertahanan rudal tersebut seiring ancaman Israel yang berambisi menyerang fasilitas nuklir Teheran. Israel yang disebut sebagai satu-satunya negara pemilik senjata nuklir di Timur Tengah itu ingin menghentikan ambisi Iran untuk memiliki senjata atom.

Iran berulang kali mengancam balik akan menyerang Israel dengan rudal jarak menengah, jika kekuatan Yahudi itu berani menyerang Teheran. Iran pun sering mengumumkan kemajuan dalam kemampuan militer dan pengembangan senjata baru untuk menunjukkan kesiapan menghadapi ancaman asing.

Kemarin, Komandan Angkatan Udara Iran Brigadir Jenderal Hassan Shahsafi, secara terpisah mengumumkan rencana untuk memproduksi rudal dari udara ke udara.

Sementara di Singapura, kemarin, Presiden AS Barack Obama mendapatkan dukungan kuat dari Presiden Rusia Dmitry Medvedev untuk menekan Iran. Kedua pemimpin memperingatkan bahwa waktu kian menipis dalam perundingan pelucutan nuklir Teheran. Obama menunjukkan rasa frustrasinya karena Iran belum juga memberikan jawaban setelah menerima draf kesepakatan dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

"Sayangnya, sejauh ini, Iran tidak dapat mengatakan ya pada proposal itu.  Kini waktu kita kian menipis untuk melakukan pendekatan itu," kata Obama setelah bertemu Medvedev di sela acara Kerja sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Singapura.

Sedangkan Medvedev menjelaskan bahwa kesabaran Rusia kian menipis. Rusia biasanya tidak ingin menghukum Iran dengan sanksi keras seperti keinginan Barat. Tapi Medvedev kemarin menegaskan, Teheran berisiko mendapatkan sanksi baru jika perundingan nuklir terus buntu.

"Moskow tidak senang dengan kondisi untuk menyelesaikan krisis ini. Jika kami gagal, pilihan lain tetap ada untuk bergerak ke arah lain.  Sebagai politisi yang logis, kami memahami bahwa semua proses harus memiliki titik akhir. Proses perundingan yang ada tidak untuk omong kosong tapi mencapai tujuan praktis," papar Medvedev.

Rusia seperti AS, memiliki hak veto di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Karena itu, dukungan Rusia sangat penting bagi upaya AS memperingatkan Iran dengan sanksi keras.(Koran SI/Koran SI/jri)
  • Agam fanzu » 0 Tanggapan
    semoga iran berhasil dan mengembangkan nuklirnya dan ini merupakan awal kebangkitan negara-negara i***m pada abad modern ini.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Agam fanzu » 0 Tanggapan
    semoga iran berhasil dan mengembangkan nuklirnya dan ini merupakan awal kebangkitan negara-negara i***m pada abad modern ini.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Agam fanzu » 0 Tanggapan
    semoga iran berhasil dan mengembangkan nuklirnya dan ini merupakan awal kebangkitan negara-negara i***m pada abad modern ini.
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit