Warga Palestina (Foto: Al Jazeera)
BRUSSELS - Uni Eropa (UE) kemarin bergabung dengan Amerika Serikat (AS) untuk tidak mendukung langkah Palestina mendapatkan pengakuan internasional sebagai negara merdeka.
UE mendesak Palestina untuk kembali dalam perundingan dengan Israel. "Saya kira ini belum saatnya. Saya berharap bahwa kita akan dalam posisi mengakui negara Palestina, tapi negosiasi dengan Israel harus menjadi tindakan pertama, jadi saya pikir langkah ini masih dini," ungkap Menteri Luar Negeri (Menlu) Swedia Carl Bildt yang negaranya saat ini memegang posisi bergilir Presiden UE.
Palestina awal pekan ini menyatakan hendak meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk mengakuinya sebagai negara merdeka.
Menurut pengamat, langkah itu bertujuan menekan Israel di tengah terganjalnya upaya AS untuk menghidupkan kembali negosiasi Timur Tengah. Kepala negosiator Palestina Saeb Erakat pada Senin (16/11) menjelaskan, pihaknya telah secara resmi meminta UE sebagai donor terbesar Palestina, untuk mendukung upaya tersebut. Sayangnya, kemarin, UE bergabung dengan Washington untuk menyatakan bahwa negosiasi Palestina-Israel merupakan jalan terbaik untuk menyelesaikan konflik Timur Tengah.
AS yang selama beberapa bulan terakhir gagal mendorong negosiasi kedua pihak, menyatakan menentang semua langkah unilateral. "Kami mendukung pembentukan negara Palestina yang bersebelahan (dengan Israel). Kami yakin itu harus dicapai melalui negosiasi antara dua pihak," papar juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ian Kelly di Washington.
Kemarin, sikap AS tersebut didukung Eropa. Komisaris Hubungan Eksternal UE Benita Ferrero? Waldner menjelaskan, prioritas saat ini harus benar-benar membantu Amerika membawa kedua pihak kembali ke meja perundingan. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy juga memperingatkan bahwa semakin lama negosiasi itu tertunda, maka dampaknya akan semakin buruk.(Koran SI/Koran SI/jri)