o1 o2

International


Dominasi Prancis dan Jerman saat Pemilihan Presiden UE

Minggu, 22 November 2009 - 10:32 wib
text TEXT SIZE :  
Share
Presiden Prancis Nicolas Sarkozy dan Kanselir Jerman Angela Merkel (Foto: Daylife)

Terpilihnya Perdana Menteri Belgia Herman van Rompuy sebagai Presiden pertama Uni Eropa (UE) dan Cathy Ashton sebagai kepala kebijakan luar negeri blok Eropa itu terus menimbulkan pro kontra. "Apakah Herman van Rompuy dan Cathy Asthon adalah pilihan terbaik yang ada sebagai presiden dewan Uni Eropa dan utusan tertinggi kebijakan luar negeri? Jelas, tidak," demikian tulis editorial The Guardian kemarin.

Media asal Inggris itu menyebut, kedua orang itu belum kompeten dan merupakan pilihan yang telah dibuat UE. Guardian bahkan yakin bahwa terpilihnya Van Rompuy dan Ashton tidak bertujuan untuk memenangkan kepercayaan di seluruh Eropa dan memberi kesan baik untuk seluruh dunia. "Mereka terpilih hanya oleh proses yang sudah ada," tulis The Guardian.

Dua tokoh ini dianggap sebagai tokoh yang low profile dan belum terlalu berpengalaman untuk memimpin blok sebesar UE ini. Terpilihnya mereka membuat blok ini tidak punya kepemimpinan high profile sebagaimana berlangsung selama bertahun-tahun. Kedua orang ini tampaknya akan menyusun langkah yang pragmatis.

"Dalam beberapa alasan, keputusan EU mengangkat pemimpin berkualitas bintang tampak, seperti mereka sedang berusaha menutup-nutupi kurangnya substansi mereka dengan penampilan," ujar Adam Jasser, seorang analisis pada Demos EUROPA, sebuah institusi riset di Warsawa, Polandia, kepada The New York Times. "Apakah Eropa akan diperlakukan secara serius atau tidak oleh dunia luar tergantung pada kemampuan mereka untuk bicara dengan satu suara dan mewujudkan prioritas mereka."

"Yang paling merusak adalah kalau ada orang yang masuk ke kantor ini dan kemudian over acting. Membangun konsensus itu krusial. Ini adalah pendekatan yang evolusioner, tapi mungkin ini merupakan pilihan yang bijak," timpal Thomas Klau dari Dewan Eropa bidang Hubungan Luar Negeri. Ashton memiliki pekerjaan menyusun jaringan diplomat UE dan Van Rompuy akan memimpin pertemuan pemimpin nasional dan menggantikan presiden bergilir UE, mewakili mereka di pertemuan UE dengan negara lain.

Penunjukan mereka terjadi dalam sebuah kesepakatan yang dirancang untuk menyeimbangkan kepentingan internal UE, dengan memberikan pos tertinggi kepada Van Rumpuy, tokoh sayap kanan dari negara kecil dan lainnya kepada Ashton, politikus sayap kiri dari sebuah negara besar, Inggris. Penunjukan presiden baru dan kepala kebijakan luar negeri baru ini dimaksudkan untuk memberikan wajah baru ke UE.

Tapi, pemilihan dua orang yang tidak terlalu terkenal ini justru menunjukkan aliansi Prancis-Jerman sebagai kekuatan dominan UE. Penunjukan ini menarik banyak kritik. Mantan Presiden Prancis Valery Giscard d'Estaing, yang membantu menyusun sistem kepresidenan UE, menyebut penunjukan itu sebagai bukti ambisi terbatas Eropa. Karena itu, Daniel Cohn-Bendit, wakil presiden kelompok Greens di Parlemen Eropa menyebut Eropa "mulai karam."

"Eropa membuat pilihan berdasarkan prioritas domestik," kritik Dominique Moisi, penasihat khusus lembaga think-tank kebijakan luar negeri Prancis, Ifri, kepada Reuters. "Mereka tidak memilih kandidat berdasarkan kebutuhan, mereka tidak benar-benar membela kepentingan Eropa. Mereka mengambil posisi berdasarkan kepentingan Inggris, Prancis, dan Jerman."

Selama puluhan tahun, Prancis dan Jerman menjadi motor yang mengendalikan perluasan UE dan pengenalan kurs mata uang tunggal mereka, euro. Sekarang mereka tampaknya berbelok untuk berusaha mengembalikan pengaruh mereka, yang selama lima tahun belakangan ini agak tersingkir setelah anggota blok ini meluas dari 15 menjadi 27 negara.

Meskipun Jerman mencurigai pendirian pengeluaran Prancis yang lebih awut-awutan, kedua negara ini punya pandangan sama tentang kapitalisme Anglo-Saxon, mereka lihat sebagai salah satu penyebab krisis finansial global, dan ingin memperketat peraturan pasar finansial.

Prancis berbelok mengontrol portofolio pasar internal penting di Komisi Eropa dan Jerman berusaha mendapatkan posisi di industri atau perdagangan. Dalam kebijakan luar negeri, kedua negara ini sama-sama menentang pemberian keanggotaan penuh UE kepada Turki. Jelas sekali, ini adalah yang terjadi selama 48 jam terakhir di Eropa, tapi ini bisa saja dimainkan dengan lebih buruk dan bisa menjadi sangat mengganggu. Apa yang terjadi di Brussels, Belgia, pada Kamis (19/11/2009), itu adalah kompromi antara negara-negara besar dan negara-negara kecil, kiri dan kanan, utara dan selatan. Tapi, persyaratan dalam traktat Lisbon sudah terpenuhi. Presiden dewan baru dan wakil tertinggi baru sudah dinominasikan. Setelah pemilihan itu, Ashton menegaskan, dia merupakan orang yang tepat untuk jabatan yang dia pegang saat ini, merujuk pada catatan keberhasilannya sebagai negosiator perdagangan.

"Apa saya egois? Tidak," ujarnya. "Nilai saya atas apa yang saya lakukan dan saya rasa Anda akan senang dan bangga pada saya." Dengan posisi kepala kebijakan diberikan kepada Inggris, Prancis saat ini berada di posisi enak untuk mendapatkan portofolio ekonomi di Komisi Eropa yang melingkupi pasar internal, yang baru-baru ini memasukkan masalah sensitif peraturan layanan finansial.

Dengan begitu, Van Rompuy, yang akan memulai masa jabatan 2,5 tahunnya pada Januari mendatang, tetap low profile dan tidak membuat pernyataan apa pun. Van Rompuy, penulis sajak haiku ala Jepang, yang menghabiskan masa liburan terakhirnya dengan menjelajahi Australia menumpangi mobil van kemping, merupakan salah satu pemimpin konvensional Eropa.

Van Rompuy, yang bisa bicara dalam banyak bahasa dan berusia 62 tahun, telah menjadi perdana menteri Belgia selama kurang dari setahun, tapi selama waktu itu, dia telah menenangkan ketegangan internal jikalau kepergiannya memprovokasi masalah di negara itu. Menurut beberapa temannya, Van Rumpoy punya sense of humor yang tinggi, tapi jangan sampai meremehkan dia. Seorang temanya, Thomas Tindemans, putra perdana menteri sebelumnya di Belgia, menyebut Van Rumpoy sangat efektif dalam negosiasi di belakang layar.

"Dalam sebuah pertemuan, dia tidak akan bicara dan lalu dia akan merangkum argumen dalam tiga kalimat, memberikan inti apa yang dia inginkan. Dia selalu berpikir sebelum bicara. Nyatanya, dia memikirkan tiga langkah ke depan," ujar Tindemans. "Dia mendapatkan banyak kesenangan dengan melakukan hal yang tidak dilakukan orang lain, menjadi politikus antiglamor."

Gaya membumi dan pragmatis ini akan meyakinkan kolega yang mungkin cemas dengan, misalnya penentangan Van Rompuy terhadap masuknya Turki ke UE atau keyakinannya atas integrasi Eropa. Penunjukan Van Rompuy ini juga tak lepas dari aliansi dekat Presiden Prancis Nicolas Sarkozy dan Kanselir Jerman Angela Merkel.

Sebelum pertemuan penunjukan presiden UE, kedua orang ini sudah mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan untuk mendukung satu calon presiden UE. Meskipun sebelumnya Sarkozy mendukung pencalonan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair untuk posisi itu, tapi pemilihan Van Rompuy ini menjamin bahwa seorang pemimpin dengan status untuk tegas dalam kebijakan Eropa dan menghentikan "lalu lintas" di Beijing tidak akan dipilih.

"Pemimpin saat ini di Eropa tidak melihat presiden sebagai seseorang di atas mereka, tapi seseorang di antara mereka, orang yang mewakili rata-rata sistem yang ada," ujar mantan Presiden Prancis Valery Giscard d'Etaing di harian Le Monde. Dengan melemahnya Perdana Menteri Inggris Gordon Brown dan kemungkinan bahwa dia akan kalah dari tokoh konservatif David Cameron dalam pemilu beberapa bulan mendatang, keputusan masa depan EU berada di tangan Sarkozy dan Merkel sebagai kekuatan dominan blok ini.

Michel Barnier, mantan menteri pertanian Prancis yang tampaknya akan ditunjuk sebagai Komisaris layanan pasar dan finansial internal UE, membela penunjukan Van Rompuy dan menyebutnya sebagai pilihan ambisius. Tapi, dia menjelaskan bahwa, dilihat dari Paris, prioritas untuk Eropa harus mampu menyelesaikan kompromi dalam nadi tradisional UE.

"Perdana Menteri Belgia merupakan orang yang sangat terhormat di negaranya, sangat efisien dan mampu membangun konsensus dan itulah apa yang kita butuhkan sebagai kepala dari 27 kepala negara dan pemerintahan," paparnya kepada France24. Paparnya, Sarkozy yang hiperaktif, sangat sukses saat Prancis menjadi pemimpin bergilir EU tahun lalu,dan Merkel sadar kuasa tidak akan pernah dibayangi presiden baru ini.

"Tangan Sarkozy dan Merkel saat menunjuk Van Rompuy punya tujuan akhir untuk mengurangi status presiden dan Dewan Tinggi Urusan Luar Negeri Eropa," ujar Jean-Christophe Cambadelis, anggota senior partai oposisi Sosialis Prancis. (Koran SI/Koran SI/mbs)

o1 o2
o1 o2

Berita Lainnya

o3 o4