(Foto: Press TV)
NEW YORK - Libya akan segera mengajukan draf resolusi kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk mendesak Israel menghentikan aktivitas permukiman Yahudi di wilayah Palestina.
Namun, langkah Libya ini diperkirakan akan terganjal oleh Amerika Serikat (AS) yang merupakan pembela utama Israel. Washington kemungkinan besar akan menggunakan hak vetonya untuk menolak semua jenis draf resolusi yang menyudutkan rezim Zionis.
"Kami sedang mendiskusikannya dengan Palestina dan anggota Dewan Keamanan yang lain. Kami akan melakukan itu," papar Utusan Libya untuk PBB Mohamed Shalgham.
Shalgham menjelaskan, negara-negara Arab dapat dengan cepat menyepakati prinsip-prinsip dan pernyataan dalam teks tersebut, kira-kira sebelum Idul Adha besok. "Negara-negara Arab telah menyiapkan teks serupa pada Juli 2008," paparnya, kemarin.
Libya merupakan satu-satunya negara Arab yang saat ini memiliki kursi di DK PBB. Langkah Libya ini kemungkinan akan terganjal AS yang punya hak veto di DK PBB.
Wakil Utusan AS untuk PBB Alejandro Wolff telah mengindikasikan bahwa Washington akan kembali menentang semua langkah yang memojokkan Israel. "Dia (Shalgham) memiliki banyak ide," kata Wolff sambil menyunggingkan senyum saat ditanya tentang usulan Libya.
Selama ini Israel tidak pernah menghentikan permukiman Yahudi. Utusan Palestina untuk PBB Riyad Mansur menganggap permukiman Yahudi itu ilegal dan penghalang utama proses perdamaian Timur Tengah.
"Kami menyerukan langkah kolektif untuk mendesak Israel memenuhi kewajiban damainya jika kita ingin mencari jalan untuk melangkah maju," papar Mansur.
Palestina meminta Israel menghentikan semua aktivitas permukiman Yahudi sebelum negosiasi damai yang terhenti sejak agresi Israel ke Gaza awal tahun ini.
Negara-negara Arab telah mendukung langkah Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan menolak seruan AS untuk mulai menormalisasi hubungan dengan Israel sebelum kesepakatan damai. "Resolusi seperti ditawarkan Libya akan membantu Israel memenuhi kewajibannya jika komunitas internasional serius tentang penyelesaian jalan buntu ini," tegas Mansur.
Tapi Mansur sadar, langkah semacam itu akan memerlukan waktu. "Langkah ini akan membutuhkan diplomasi alot dengan semua pihak, termasuk hingga level ibu kota, termasuk kemungkinan di tingkat menteri-menteri," paparnya.
Mansur mengingatkan, menteri-menteri luar negeri dari negara-negara Arab akan segera bertemu di Kairo. Pertemuan itu untuk membahas permukiman Yahudi dan prospek perundingan damai Israel-Palestina.
Israel tetap melanjutkan permukiman Yahudi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang dicaplok rezim Zionis pada 1967. Pencaplokan tanah Palestina oleh Israel itu tidak pernah diakui komunitas internasional dan kini telah dihuni 400.000 pemukim Yahudi. Menurut Palestina, permukiman Yahudi itu akan mencegah pembentukan negara Palestina merdeka di Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Jalur Gaza merupakan wilayah yang ditinggalkan Israel pada 2005 setelah 38 tahun pendudukan. Sebanyak 8.000 pemukim Yahudi lantas ditarik dari Gaza. Setelah Gaza dikuasai Hamas Palestina, Israel memblokade seluruh pintu perbatasan hingga warga Palestina kekurangan bahan makanan dan air. Israel lantas menyerbu Gaza pada akhir tahun 2008 dan awal tahun 2009 hingga menewaskan lebih dari 4.300 warga Palestina.
Sementara itu, Israel menolak membebaskan 40 warga Palestina yang diminta Hamas sebagai pertukaran tahanan. Israel merasa keberatan dengan 40 nama yang diminta Hamas tersebut. "Menyelesaikan pertukaran tahanan dalam sepekan merupakan sesuatu yang tidak pernah diperkirakan, ini mustahil," kata sumber Palestina.
Berdasarkan kesepakatan itu, Israel akan membebaskan ratusan warga Palestina dan Arab untuk ditukar dengan Gilad Shalit, Kopral asal Israel yang disandera Hamas sejak 2006. "Perbedaan antara dua pihak masih terjadi, termasuk tokoh-tokoh utama dari Gaza dan Tepi Barat, yang ditahan Israel," ungkap sumber tersebut.
Sumber itu menyangkal laporan bahwa daftar 450 tahanan yang akan dibebaskan pada tahap pertama pertukaran itu telah disepakati. Laporan tentang terobosan dalam negosiasi tidak langsung antara Hamas dan Israel itu menciptakan banyak spekulasi bahwa pertukaran akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan.(Koran SI/Koran SI/jri)