WINA - Menutup 12 tahun masa jabatannya sebagai Direktur Jenderal Badan Energi Atom Dunia (IAEA), Mohamed ElBaradei memberi kritik pedas terhadap Iran karena menyebabkan perundingan nuklir macet.
Kritikan pedas terhadap Iran disampaikan ElBaradaei saat menyampaikan laporan akhir masa tugasnya sebagai Direktur Jenderal IAEA, Kamis (26/11/2009). ElBaradei juga mengaku frustrasi atas macetnya perundingan terkait persoalan nuklir Iran. Diplomat asal Mesir tersebut akan mundur pekan depan dan diganti diplomat asal Jepang Yukiya Amano yang terpilih Juli lalu.
"Tidak ada kemajuan apa pun atas isu (nuklir Iran) yang menjadi perhatian kita bersama ini. Padahal, sudah setahun IAEA mengajak Iran berdiskusi tentang isu tersebut. Perundingan macet dan kita sudah mencapai batas akhir, kecuali jika Iran benar-benar bekerja sama sepenuhnya dengan kita," tutur ElBaradei di depan 35 anggota IAEA. Kritik ElBardaei ini dikeluarkan saat negara 5P+1 mencari cara baru penyelesaian nuklir Iran.
Negara 5P+1 yang terdiri atas lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (Amerika Serikat/AS, China, Rusia, Prancis, Inggris) serta Jerman selama ini ditugasi untuk menggelar perundingan dengan Iran. September silam, Iran mengejutkan dunia dengan mengumumkan adanya instalasi nuklir kedua mereka. Instalasi yang berada di kota suci Qom tersebut dibangun secara diam-diam dan selama ini Iran merahasiakan keberadaannya.
Namun, sejak pengumuman itu, Iran mengizinkan petugas IAEA untuk mengunjungi instalasi nuklir mereka. Pengumuman Iran, September silam, membuat negara Barat semakin curiga bahwa Iran memiliki instalasi lain yang masih dirahasiakan. Sesuai kesepakatan 2003, Iran diharuskan memberi laporan dan informasi kepada IAEA terkait program pengayaan nuklirnya. Namun adanya instalasi nuklir Qom membuat kesepakatan itu "sia-sia".
"Pengumuman Iran akan instalasi nuklir mereka mengurangi kepercayaan kami bahwa Iran tidak memiliki instalasi lain selain yang sudah mereka laporkan ke kami," tutur ElBaradei. Terkait minimnya kemajuan dalam penyelesaian nuklir Iran, negara 5P+1 berencana meminta voting kepada 35 anggota IAEA untuk mempertimbangkan pemberlakuan resolusi baru terhadap Iran.
Setiap anggota sudah menyatakan sikapnya, Kamis hingga kemarin. Wakil Jerman Ruediger Luedeking masih berharap nuklir Iran masih bisa diselesaikan secara diplomasi. Dia juga meminta negara lain untuk memberi kesempatan pada Iran dalam bernegosiasi. "Kami memberi kesempatan kepada Iran untuk mengambil langkah," tutur Luedeking.
Iran sudah dikenai tiga sanksi dan lima resolusi Dewan Keamanan PBB karena terus mempertahankan program nuklirnya. Resolusi terakhir diambil Februari 2006 silam. Wakil Iran di IAEA Ali Asghar Soltanieh mengatakan Teheran akan mengurangi kerja sama dengan IAEA jika dewan memberi resolusi baru.
Sementara itu, Pemerintah Iran menyita hadiah Nobel Perdamaian yang diterima aktivis HAM asal Iran Shirin Ebadi. Hadiah, medali, dan sertifikat tersebut disita atas perintah Pengadilan Revolusi Iran tiga pekan lalu. Iran belum memberikan komentar apa pun terkait penyitaan ini. Banyak pihak menduga penyitaan tersebut dilakukan menyusul kritik keras Ebadi terhadap proses pemilu Iran Juni silam yang mengundang reaksi keras karena adanya kecurangan.
Selain melakukan penyitaan, Iran juga meminta Ebadi untuk membayar pajak sebesar USD1,3 juta (sekira Rp13 miliar) atas hadiah tersebut. "Medali dan sertifikat serta barang-barang pribadi Dr Ebadi sudah dipindah dari kotak penyimpanannya di bank di Teheran. Tindakan Pemerintah Iran ini membuat kami sangat shock dan tidak percaya," jelas Menteri Luar Negeri Norwegia Jonas Gahr dalam pernyataan resminya.
(Koran SI/Koran SI/mbs)