Getting Time...

Minyak sebagai Senjata Diplomatik

Minggu, 06 Desember 2009 11:35 wib
Salah satu kekuatan laut yang dimiliki Iran (Foto: Press TV)
Salah satu kekuatan laut yang dimiliki Iran (Foto: Press TV)
TEHERAN - Iran dapat menggunakan minyak sebagai senjata diplomatik dengan menutup Selat Hormuz jika terjadi konflik dengan Barat. Badan Intelijen Angkatan Laut Amerika Serikat (ONI) menyebutkan hasil review mereka kemarin.

Menurut ONI, Teheran memiliki keuntungan diplomatik dengan menutup jalur kapal-kapal untuk pengiriman minyak di selat yang memisahkan Teluk Persia dan Teluk Oman tersebut.

"Selat tersebut sangat penting sehingga mengacaukan lalu lintas atau mengancam kapal-kapal yang lewat di sana merupakan alat efektif bagi Iran untuk menekan komunitas internasional," ungkap laporan ONI kemarin.

Mark Fitzpatrick, kepala analis proliferasi nuklir di International Institute for Strategic Studies, London, juga memperingatkan, Teheran dapat mengambil tindakan keras di Selat Hormuz saat Israel menyiapkan serangan ke fasilitas nuklir Iran.

Kekhawatiran asing itu sesuai pernyataan komandan angkatan laut Iran Laksamana Haibollah Sayyari pada September silam bahwa pasukan Iran memiliki kewajiban memblokade rute-rute yang digunakan musuh. Selain itu, bulan lalu, pasukan militer Iran melakukan latihan perang pertahanan udara skala luas untuk menunjukkan kemampuan bangsa itu melindungi fasilitas nuklirnya dari serangan asing.

Berbagai elemen pasukan militer dan Garda Revolusi terlibat dalam lima hari manuver di berbagai kawasan Iran. "Ini merupakan latihan perang terbesar yang mencakup wilayah 600.000 km persegi. Tujuan latihan perang ini ialah mempromosikan kekuatan militer melawan serangan apa pun," papar Brigadir Jenderal Ahmad Mighani.

Amerika Serikat (AS) dan Israel pernah mengancam dapat menggelar aksi militer jika tidak berhasil menekan Iran melalui jalur diplomasi. Iran juga balik mengancam akan merespons "keras" semua aksi militer terhadap fasilitas nuklirnya.

"Tujuan latihan militer ini untuk menunjukkan kemampuan tempur Iran dan kekuatan militernya. Kebijakan pertahanan, operasi psikologis, dan inovasi selama latihan perang menjadi tujuan latihan ini," papar Mighani.

Iran pernah melakukan berbagai latihan perang di masa lalu, termasuk menembakkan rudal jarak jauh Shahab-3 yang memiliki jangkauan 2.000 km hingga mampu menghancurkan pangkalan AS atau Israel di Teluk.

Sementara itu, kemarin, pemerintah Iran memperingatkan pendukung oposisi untuk tidak menggelar unjuk rasa saat mahasiswa memperingati Hari Pelajar pada Senin (7/12) mendatang.

Setiap tahun, para mahasiswa mengenang 7 Desember 1953 saat tewasnya tiga mahasiswa oleh tentara keamanan era pemerintahan shah Iran, beberapa bulan setelah kudeta yang didukung AS menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadeq yang didukung publik, untuk mempertahankan monarkhi Shah saat itu.

Hari Pelajar itu diperingati dengan berkumpul di kampus. Namun, acara ini diperkirakan akan dimanfaatkan oposisi untuk menggelar unjuk rasa antipemerintahan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.

Beberapa laman oposisi telah mendorong publik berunjuk rasa di jalanan dekat berbagai universitas di negara itu. "Kami akan membubarkan semua acara di luar izin universitas pada 7 Desember yang kami anggap perkumpulan ilegal," papar polisi Teheran dalam pernyataannya.(Koran SI/Koran SI/jri)
TWITTER »
twit