Pemandangan Kota Tua Yerusalem (Foto: AFP)
BRUSSELS - Para menteri luar negeri Uni Eropa mendesak digelarnya negosiasi mengenai status Yerusalem. Harus diputuskan apakah wilayah itu akan menjadi ibu kota Israel atau negara Palestina di masa depan.
"Jika akan ada perdamaian sejati, sebuah jalan harus ditemukan melalui negosiasi untuk menyelesaikan status Yerusalem sebagai ibu kota dua negara di masa depan," ujar para menteri luar negeri negara-negara Eropa, yang dikutip dari Reuters, Rabu (9/12/2009).
Status Yerusalem, yang merupakan kota suci tiga agama, adalah isu sensitif bagi Israel yang mempertimbangkan kota itu sebagai wilayah yang tidak dapat dibagi. Sementara rakyat Palestina menginginkan bagian timur Yerusalem menjadi ibu kotanya.
"Harus ada negosiasi mengenai semua hal. Semua isu ada di atas meja, dan kami katakan bahwa kami tidak akan mengakui setiap perubahan pada perbatasan tahun 1967 yang tidak disetujui oleh semua pihak. Itu termasuk Yerusalem. Jadi kami menginginkan perdamaian sejati, yang harus ditemukan melalui negosiasi untuk menyelesaikan status Yerusalem sebagai ibu kota dua negara," papar pernyataan tersebut.
Israel merebut Tepi Barat dan Yerusalem Timur dari Yordania. Uni Eropa menegaskan tidak akan pernah mengakui pencaplokan Yerusalem oleh negeri Yahudi itu, dan mengatakan pembangunan permukiman di Tepi Barat harus diakhiri.
UE juga menilai perlakuan otoritas Israel terhadap rakyat Palestina di Yerusalem Timur sangat diskriminatif.
Sementara itu, dikutip dari New York Times, Israel mengungkapkan kepuasan atas sikap Uni Eropa yang tidak menerima usulan Swedia untuk secara eksplisit mengakui klaim Palestina atas Yerusalam Timur sebagai ibu kota negara di masa depan.(jri)