Goerge Soros (Foto: Al Jazeera)
KOPENGHAGEN - Miliuner Amerika George Soros menganggap dana USD10 miliar yang akan dikucurkan oleh negara kaya kepada membantu negara miskin masih belum cukup, untuk beradaptasi dengan kondisi yang diakibatkan oleh perubahan iklim.
Menurut Soros, jurang pemisah antara "si kaya" dan "si miskin" ini dapat membahayakan KTT Iklim PBB (UNFCCC) yang saat ini berlangsung di Kopenhagen, Denmark. Untuk itu spekulan kaya ini mengajukan proposal untuk mengalihkan sejumlah dana milik Dana Moneter Internasional (IMF), dari menyediakan likuiditas ke misiĀ membiayai proyek bagi negara berkembang guna memulai energi bersih dan beradaptasi dengan perubahan iklim.
Pengusaha AS keturunan Hongaria ini mengusulkan agar dana USD100 miliar dikucurkan untuk rencana ini. Soros bahkan mengusulkan dana tersebut dapat meningkat hingga mencapai angka USD238 miliar.
Seperti dilansir Al Jazeera, Jumat (11/12/2009), uang tersebut menurut Soros bisa didapat dari dana yang disimpan IMF untuk negara kaya guna menjaga perekonomian mereka agar terhindar dari kekacauan saat terjadinya krisis finansial.
Orang terkaya nomor 29 menurut majalah Forbes ini menilai jika dana USD100 miliar tersebut diperoleh dari Penarikan Khusus (SDR) yang dikeluarkan IMF, dan dapat digunakan negara miskin guna diinvestasikan di proyek yang berkaitan dengan pengurangan emisi karbon.
Soros menyebutkan jika negara berkembang bisa menghasilkan uang dari investasi karbon mereka lewat SDR tersebut, dengan menjual emisi karbon mereka ke pasar.
Namun Soros sadar jika proposalnya tersebut memang menghadapi banyak rintangan, termasuk persetujuan dari Kongres AS dan Direktur IMF serta yang paling penting adalah harga karbon dunia. (faj)(jri)