Getting Time...

Jepang Lebih Perhatikan Indonesia

Kamis, 17 Desember 2009 09:29 wib
Menteri Luar (Menlu) Jepang Katsuya Okada (Foto: Daylife)
Menteri Luar (Menlu) Jepang Katsuya Okada (Foto: Daylife)
TOKYO ? Di bawah pemerintahan Minshuto atau Partai Demokrat Jepang (DPJ), saat ini Pemerintah Jepang lebih memperhatikan hubungannya dengan Indonesia dibandingkan pemerintahan terdahulu.

Ketika masih berada di bawah pemerintahan Junichiro Koizumi dan partainya, Jiminto atau Partai Demokratik Liberal (LDP), perhatian Negeri Matahari Terbit kepada Indonesia sangatlah kurang. Bagi Jepang, negara-negara di kawasan Asia, terutama China dan anggota Asosiasi Negara Asia Tenggara (ASEAN), saat ini menjadi mitra penting dalam hubungan regional mereka.

Tokyo melihat bahwa Indonesia juga tak bisa dipandang sebelah mata dalam kaitan perbaikan hubungan tersebut. ?Bagi pemerintahan Minshuto saat ini, hubungan dengan ASEAN khususnya Indonesia menjadi jauh lebih penting ketimbang masa Koizumi dulu.

Karena itu, Jepang saat ini dan untuk masa depan ingin lebih banyak lagi memperhatikan Indonesia di samping hubungan yang telah lama terjalin di masa lalu. Bahkan dengan partai yang sama, Partai Demokratik, tentu berharap akan jauh lebih baik lagi hubungan kedua negara ini dalam waktu dekat,? papar Menteri Luar (Menlu) Jepang Katsuya Okada kepada koresponden harian Seputar Indonesia Richard Susilo di kantornya.

Menurut Okada, kedua negara, Indonesia dan Jepang,harus memiliki hubungan yang lebih baik lagi dalam kerangka win-win solution yang tidak hanya memfokuskan pada bidang sosial politik, tapi juga bidang ekonomi. Di mata Okada, stabilitas Indonesia saat ini di segala bidang sudah baik dan perlu dipertahankan terus di masa depan. Penerimaan dalam negeri Indonesia pun diharapkan Okada dapat semakin terus ditingkatkan sehingga kemampuan ekonomi dalam negeri Indonesia dapat lebih baik lagi di tengah perkembangan ekonomi yang telah baik saat ini.

?Lihat saja beberapa perusahaan Jepang yang saat ini berinvestasi di Indonesia mulai merasakan sekali banyak manfaat dan keuntungan berbisnis di Indonesia. Sebuah perusahaan sepeda motor Jepang pun dapat memproduksi lebih dari 300.000 unit motor di Indonesia ketimbang di dalam negeri Jepang yang hanya 150.000 unit. Besarnya kesempatan bisnis di Indonesia tentu menarik perhatian kalangan ekonomi Jepang saat ini,? ungkapnya.

Menurut Okada, dengan semakin banyaknya pengusaha Jepang yang melirik Indonesia, pemerintahan Indonesia pun diharapkan dapat pula untuk lebih memperhatikan infrastrukturnya dan semua hal yang terkait kelancaran bisnis di Indonesia demi perkembangan di masa mendatang. Okada yang telah lima kali ke Indonesia merasakan betapa potensialnya Indonesia dan semakin pentingnya hubungan kedua negara ini di masa depan.

Bagi dia, keberadaan Indonesia sangat penting dan dihormati di ASEAN. ?Itulah sebabnya Jepang untuk pertama kali di bawah pemerintahan (Perdana Menteri Yukio) Hatoyama memberikan bantuan pinjaman lunak kepada negara luar dan pertama kali diberikan kepada Indonesia sebesar 37,44 miliar yen minggu lalu, khususnya untuk mengantisipasi pemanasan global (global warming),? tekannya.

Selain itu, kemarin Jepang juga menghibahkan USD283.000 kepada Pemda Aceh dan lembaga swadaya masyarakat untuk pembenahan daerah Aceh yang hancur tertimpa tsunami beberapa tahun lalu. Uang tersebut untuk pembenahan sistem irigasi di Aceh dan perbaikan Pusat Pelatihan Pertanian di Aceh.

Menanggapi program bantuan Pemerintah Jepang berbentuk Overseas Development Assistance (ODA), menurut Okada, Pemerintah Jepang masih harus memikirkan lebih lanjut jumlah besaran bantuan ODA tersebut mengingat keadaan dalam negeri Jepang saat ini sangat membutuhkan banyak pengeluaran.

?Tentu saja program ODA kami anggap penting untuk dunia. Namun, selain krisis ekonomi dunia, seperti diketahui, saat ini Jepang membutuhkan banyak pengeluaran dan semua itu perlu diperhitungkan dan dipertimbangkan dengan anggaran keseluruhan. Yang pasti kita tetap memperhatikan Asia dan Afrika untuk bantuan ODA,terlebih negara yang perbedaan antara miskin dan kaya besar sekali seperti negara-negara di Afrika. Sedangkan negara yang kami anggap telah lulus karena selama ini banyak dibantu dengan ODAtentudananya dapatdialihkan ke negara lain yang masih sangat membutuhkan,? ungkapnya lebih lanjut.

Terkait infrastruktur dan energi, Okada juga sadar akan besarnya kebutuhan tenaga listrik di Indonesia. Dia mengungkapkan, Jepang akan memperhatikan jika ada permintaan dari Indonesia untuk pembangunan pembangkit tenaga listrik. Selain bidang ekonomi dan energi, Okada juga memperhatikan kerja sama bidang sosial dengan Indonesia yang selama ini terjalin dengan pengiriman tenaga perawat dan penopang lansia dari Indonesia ke Jepang.

Okada mengungkapkan pengertiannya terkait masalah yang dihadapi para tenaga perawat saat bekerja di Jepang. Selain harus bekerja, mereka juga masih harus menghadapi ujian nasional perawat sebagaimana dipersyaratkan di negara itu. ?Saya yakin pasti berat bagi mereka bekerja di Jepang karena juga harus sambil belajar bahasa Jepang guna menghadapi ujian nasional perawat nantinya. Makanya, kita perlu mencari jalan ke luar lebih lanjut bagaimana caranya supaya semua kendala ini dapat dihadapi dengan baik oleh semua pihak karena apabila program ini gagal dilakukan, tentu bukan hanya nama Indonesia kurang baik, melainkan nama Jepang pun menjadi taruhannya,? paparnya.

Menurut dia, sampai saat ini Pemerintah Jepang masih terus mencari tahu solusi yang terbaik bagi program perawat Indonesia di masa mendatang di tengah pengiriman tenaga perawat Indonesia yang telah datang di Jepang saat ini. Jumlah perawat dan penopang lansia Indonesia yang telah berada di Jepang saat ini sekira 586 orang dari janji 1.000 orang yang akan didatangkan ke Jepang.

Namun, melihat kenyataan yang ada saat ini, setelah lebih dari satu tahun berjalan program ini, Pemerintah Jepang saat ini tampaknya lebih berhati-hati lagi dalam penerimaan tenaga perawat dari Indonesia karena muncul berbagai masalah yang ada di Jepang.

Pengiriman sekira 400 perawat sebagai bagian dari kerja sama pengiriman tenaga perawat itu sampai saat ini masih terkatung karena Jepang masih melakukan kaji ulang. Seperti diberitakan Seputar Indonesia pada 20 November lalu, para perawat Indonesia yang dikirim ke Jepang mengalami beberapa masalah sehingga ada yang memilih pulang ke Indonesia. (*)(Koran SI/Koran SI/mbs)
TWITTER »
twit