Getting Time...

KTT Iklim Masuki Fase Krusial

Fajar Nugraha
Kamis, 17 Desember 2009 12:31 wib
Pendemo di KTT Iklim (Foto: Getty Images)
Pendemo di KTT Iklim (Foto: Getty Images)
KOPENHAGEN - Pertemuan KTT Iklim PBB (UNFCCC) di Kopenhagen, Denmark, memasuki fase krusial hari Kamis ini saat putaran pembicaraan kunci yang menentukan berhasil atau tidaknya konferensi akan dimulai.

Menteri Lingkungan yang hadir dalam konferensi ini, dijadwalkan untuk melakukan pertemuan final hari ini. Mereka dikejar tenggat waktu untuk menghasilkan pakta baru mengenai perubahan iklim, yang proposal sebelumnya hampir selesai. Menteri- menteri itu juga didesak untuk bisa mengatasi perbedaan negara kaya dan negara miskin, mengenai cara membagi dana bantuan yang digunakan untuk mengatasi perubahan iklim.

Sementara Ketua Negosiator KTT IKlim PBB, Yvo de Boer mendesak delegasi dari 193 negara untuk mengatasi perbedaan dan segera menghasilkan kesepakatan antara peserta konferensi. Hal ini diminta de Boer setelah tanda-tanda kebuntuan dari negosiasi tersebut makin jelas terlihat.

Sebelumnya negosiasi antar anggota delegasi sempat tertunda selama sembilan jam. Penundaan ini terjadi akibat perdebatan mengenai proposal yang akan dijadikan dasar pembicaraan selama konferensi. Hal ini terjadi setelah Denmark sebagai ketua Negosiasi berusaha mengganti proposal yang sebelumnya sudah disetujui dengan proposal baru. Demikian diberitakan BBC, Kamis (17/12/2009).

Selain itu, timbul tuduhan dari negara-negara berkembang, jika delegasi Denmark berusaha mengesampingkan kepentingan mereka.

Namun disela-sela perdebatan tersebut, Jepang sebagai salah negara penyumbang emisi karbon terbesar, telah menyepakati untuk menyediakan dana sebesar USD5 miliar per tahun untuk membantu negara miskin mengatasi krisis perubahan iklim. Tetapi dana yang akan digelontorkan pada 2010 hingga 2012 tersebut, hanya bisa dikeluarkan jika KTT Iklim ini mampu menghasilkan kesepakatan.

Tidak hanya itu, Negeri Matahari Terbit itu menginginkan pengurangan emisi karbon oleh negara-negara berkembang harus diikat dengan ketentuan hukum. Namun keinginan Jepang tersebut ditentang keras oleh China.

Bersama dengan Australia, Prancis, Norwegia serta AS dan Inggris, Jepang juga secara kolektif menyetujui kucuruan dana sebesar USD3 miliar untuk mengatasi kerusakan hutan. Dana ini rencananya akan dikucurkan bertahap selama tiga tahun.

KTT Iklim PBB (UNFCCC) akan mencapai puncaknya pada hari Jumat esok. Sekitar 120 kepala negara dijadwalkan akan hadir dalam KTT yang berlangsung pada 7-18 Desember ini. Presiden AS Barack Obama dijadwalkan hadir pada pertemuan puncak tersebut, sementara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah tiba di arena konferensi Rabu malam waktu setempat. (faj)













(jri)
TWITTER »
twit