Presiden Barack Obama (Foto: BBC)
KOPENHAGEN - Lima negara termasuk China dan Amerika Serikat (AS) meraih kata sepakat dalam beberapa isu di KTT Perubahan Iklim PBB (UNFCCC). Beberapa kesepakatan yang disetujui oleh para kelima negara tersebut merupakan perjanjian yang tidak mengikat.
"Untuk pertama kalinya dalam sejarah negara maju mampu mengambil sikap dan tanggung jawab atas ancaman perubahan iklim." ucap Presiden AS Barack Obama, seperti dikutip Al Jazeera, Sabtu (19/12/2009).
Obama menambahkan, jika negaranya bersama China, Brasil, India, dan Afrika Selatan, telah menyetujui untuk menetapkan batasan pemanasan global hingga dua derajat celcius.
Kesepakatan ini juga mengharuskan kelima negara tersebut untuk mengemukakan tindakan konkret yang telah mereka lakukan untuk mengontrol emisi gas buang dan komitmen mereka untuk mengurangi emisi karbon lebih banyak lagi.
Selain itu kesepakatan juga menyertakan komitmen dari tiap negara untuk memberikan bantuan hingga USD100 miliar bagi negara miskin hingga 2020, supaya mereka mampu menghadapi ancaman bahaya perubahan iklim. Presiden Obama pun menyatakan, diraihnya kesepakatan ini merupakan sebuah terobosan positif yang diharapkan mampu membuat perubahan.
Kesepakatan lima negara ini dianggap negara-negara yang tergabung dalam G77, sebagai sebuah aksi pengkhianatan atas pembicaraan tentang perubahan iklim yang saat ini masih berlangsung. Hal serupa juga diutarakan oleh Presiden Komisi Uni Eropa Jose Manuel Barroso, yang menyebutkan jika perjanjian tidak mengikat yang disetujui kelima negara tersebut mengecewakan banyak pihak.
Hingga kini negosiasi dalam KTT Perubahan Iklim PBB masih terus berlangsung. Banyak negara peserta, khususnya negara-negara berkembang, tidak bersedia menerima proposal baru dokumen kesepakatan yang biasa disebut "Kesepakatan Kopenhagen". (faj)
(jri)