Berluscono dan Mussolini (Foto: telegraph.co.uk)
BERLUSCONI dihukum Gereja Katholik Roma karena kesukaannya bersenang-senang dengan wanita penghibur, digugat cerai istrinya, dituduh tidur dengan wanita pekerja seks komersial dan menghadapi dua sidang korupsi.
Belum selesai semua masalah itu, pekan lalu, seorang pria gila menghantamkan suvenir katedral Milan tepat ke wajahnya. Tapi, apa yang dialami Berlusconi itu bukanlah sesuatu yang luar biasa di Italia. Sebelumnya, salah satu pemimpin Negeri Pizza itu pun pernah mengalaminya. Lebih dari 80 tahun lalu, seorang politikus muda yang, seperti Berlusconi, ingin membuat Italia kembali kuat, diserang dan menderita luka di wajahnya, yang artinya – juga seperti Berlusconi – dia akan tampil di publik dengan plester yang menutupi sebagian wajahnya.
Politikus itu tak lain dan tak bukan adalah Benito Mussolini, perdana menteri saat itu dan diktator Fasis yang membuat kereta selalu berjalan tepat waktu – dan membawa Italia ke perang dengan bersekutu dengan Nazi Jerman. Sebuah foto yang menampilkan Mussolini dengan plester di wajahnya – hidungnya patah akibat terserempet peluru dari tembakan yang awalnya diarahkan ke kepalanya – memperlihatkan bahwa Mussolini tak gentar menghadapi apa pun di depannya – sebagaimana Berlusconi, yang wajahnya juga diplester, berusaha memperlihatkan ketabahannya setelah dirawat empat malam di rumah sakit San Raffaele, Milan, pekan lalu.
Penyerang Berlusconi adalah seorang pria Italia yang punya sejarah sakit mental dan menurut dokter, serangan itu bisa menewaskan Berlusconi. Akibat serangan itu, dua gigi Berlusconi rontok, hidungnya patah dan darah mengucur deras ke wajahnya. Sementara, penyerang Mussolini adalah seorang aristokrat Irlandia, Violet Gibson. Wanita berusia 50 tahun itu menembak sang perdana menteri saat dia meninggalkan semua pertemuan pada 1926. Tembakannya meleset dan menyerempet hidung Mussolini. Wanita itu beruntung karena lolos dari pembunuhan.
Dia dideportasi ke Inggris dan menghabiskan sisa hidupnya di sebuah rumah sakit jiwa di Northampton. Komentator di Italia segera membandingkan Gibson dengan penyerang Berlusconi, Massimo Tartaglia (42), seorang teknisi elektronik yang kini ditahan di sebuah penjara di Milan dan menghadapi vonis lima tahun penjara jika dinyatakan bersalah. ”Saat saya melihat Berlusconi dengan wajah diplester, saya segera ingat foto kondang Mussolini dengan plester di hidungnya,” ujar Profesor Christopher Duggan, penulis biografi Mussolini dan kepala sejarah modern Italia di Reading University.
Mussolini mampu menggunakan percobaan pembunuhan terhadap dirinya itu untuk semakin menegaskan dirinya sebagai pria yang tetap kokoh berdiri tegak meski diserang orang gila dan ekstrimis, yang malah mendorong Italia menuju Fasisme dan beraliansi dengan Adolf Hitler, pemimpin Nazi. Berlusconi mungkin mampu mengeksploitasi serangan terhadap dirinya untuk meningkatkan jumlah pendukungnya.
Musuhnya khawatir bahwa dia akan memanfaatkan kucuran simpati itu sebagai landasan pacu untuk membangun lagi popularitasnya, memecah belah musuhnya dan kemudian meningkatkan serangan terhadap sistem peradilan, yang dituduh Berlusconi melakukan perburuan penyihir politik dan bermotif politik karena memimpin kasus terhadap dirinya.
Serangan itu bisa saja dengan tiba-tiba memberikan tenaga bagi Berlusconi untuk melakukan serangan balik dari sebuah tahun buruk dimana dia telah dihantam oleh skandal seks, tuduhan bahwa dia berkolusi dengan mafia pada awal karier politiknya dan keputusan mahkamah agung Italia yang membatalkan undang-undang yang memberikan kekebalan bagi dia dari persidangan. ”Di balik percobaan pembunuhan teradap Mussolini, pemerintahannya langsung melarang oposisi, membatasi kebebasan pers dan memperkenalkan undang-undang kebijakan yang lebih keras. Ini adalah pemicu segala macam pemberangusan,” ujar Duggan.
”Berlusconi benar-benar pintar menggunakan media dan saya yakin dia dan penasihatnya akan melakukan apa saja untuk membuat dampak politik.” Serangan itu juga akan memperkuat tangan Berlusconi dalam melawan kritikus adn rivalnya di dalam pemerintahan sayap kanan tengah yang dia pimpin saat ini.
Yang paling terancam atas semua ini adalah pemimpin faksi dan mantan fasis Gianfranco Fini, yang berseberangan dengan Berlusconi atas perubahan konstitusi dan hak imigran.(Koran SI/Koran SI/mbs)