Getting Time...

Nasib Prajurit Israel Ditahan Hamas Tak Jelas

Fajar Nugraha
Selasa, 22 Desember 2009 09:33 wib
Gilad Shalit (Foto: AFP)
Gilad Shalit (Foto: AFP)
YERUSALEM - Perundingan maraton Israel membahas pertukaran ratusan tahanan Palestina dengan seorang prajurit Israel, berakhir dengan kebuntuan. Ini semakin memperpanjang proses negosiasi yang sudah berlangsung tiga tahun.

Pertemuan yang dilakukan di kantor Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, tak menghasilkan apa pun. Tujuh anggota Kabinet keamanan Israel belum menemukan kata sepakat mengenai syarat dari pembebasan Gilad Shalit yang ditahan oleh pejuang Palestina sejak 2006 lalu.

Selama 48 jam terakhir, kabinet Israel telah melakukan pembicaraan lima kali. Pembicaraan yang berlangsung tegang ini berusaha untuk menentukan sikap untuk menyetujui atau membatalkan batas waktu kesepakatan pertukaran tahanan kedua belah pihak.

Namun pada akhirnya kabinet justru mengeluarkan pernyataan yang menginstruksikan tim negosiasi Israel terus melakukan upaya untuk mengembalikan Shalit ke negaranya. Pernyataan ini mengartikan tidak ada keputusan yang berhasil diraih oleh kabinet Israel. Demikian diberitakan Al Jazeera, Selasa (22/12/2009).

Kebuntuan pembicaraan itu, mengundang aksi protes dari warga Israel. Mereka berkumpul di depan kediaman Perdana Menteri Israel menuntut pemerintah segera menyetujui perjanjian pertukaran tahanan dengan pihak Palestina.

Sementara pihak Hamas sendiri masih belum mengeluarkan tanggapan resmi terkait pertukaran tahanan. Namun antisipasi atas tercapainya kata sepakat antara Hamas dan Israel terus didengungkan dalam beberapa pekan terakhir.

Pertukaran tahanan dimediasi oleh Mesir dan Jerman. Israel meminta pembebasan prajurit mereka Gilad Shalit yang ditangkap di perbatasan Gaza. Namun Israel masih belum menyetujui permintaan Hamas yang menginginkan belasan anggotanya dibebaskan.

Israel menilai beberapa orang yang termasuk dalam daftar pembebasan Hamas, didakwa melakukan serangan mematikan ke Israel. Jika dibebaskan tahanan tersebut di mata Israel justru dapat menimbulkan ancaman bagi negara Yahudi. (faj)(jri)
TWITTER »
twit