Cuaca ekstrem di Ukraina (Foto: AFP)
LONDON - Cuaca ekstrem yang melanda Eropa dalam beberapa hari terakhir, terus memakan korban. Lebih dari 80 orang tewas akibat cuaca yang mencapai di bawah nol derajat.
Polandia merupakan negara terparah. Di negara itu, sebanyak 42 orang tewas dalam selama tiga hari terakhir. Pihak berwenang mengatakan jika seluruh korban tewas merupakan para tunawisma yang terpaksa tidur di luar saat kondisi cuaca mencapai minus 20 derajat Celcius. Kondisi serupa juga melanda Ukraina, di mana 27 orang dilaporkan tewas.
Sementara 13 orang tewas dalam kecelakaan mobil karena badai salju yang terjadi di Austria, Finlandia, dan Jerman. Di tiga negara itu suhu bahkan mencapai minus 33 derajat Celcius. Prancis menjadi negara terakhir yang melaporkan warganya tewas. Dua orang tunawisma dilaporkan tewas akibat tidak mampu mengatasi kondisi cuaca ekstrem.
Seperti dilansir BBC, Selasa (22/12/2009), cuaca dingin disertai salju tebal yang terus turun, juga membuat akses transportasi udara, kereta api, dan jalan raya terganggu. Banyak ruas jalan di Inggris ditutup akibat salju tebal, sehingga jalan sulit dilintasi. Eurotunel, terowongan bawah laut yang menghubungkan Inggris dan Prancis, menghentikan sementara pengoperasian kendaraan penghubung mereka.
Kondisi buruk juga menyebabkan transportasi udara terganggu. Pada Senin malam waktu setempat, maskapai penerbangan Inggris. British Airways membatalkan seluruh penerbangan domestik dan Eropa yang biasa mereka layani. Sementara otoritas bandara di Prancis, Jerman, Belgia, dan Belanda, berjuang untuk membersihkan landasan dari tumpukan salju. Kondisi ini menyebabkan jadwal penerbangan di keempat negara tersebut kacau.
Cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlanjut pada perayaan Natal hingga akhir pekan. Suhu udara juga diperkirakan membaik pada akhir pekan depan. (faj)(jri)