Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad (Foto: AFP)
TEHERAN - Dalam wawancaranya dengan jaringan televisi ABC News, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad membantah laporan dokumen yang menyebutkan pihaknya berencana untuk melakukan tes terhadap alat pemicu nuklir.
Lebih lanjut Ahmadinejad menyatakan jika dokumen tersebut merupakan hasil penipuan Amerika Serikat. Dia bahkan menilai kritikan terhadap program nuklir Iran, telah berubah menjadi lelucon yang tidak lucu yang secara terus menerus diulang. Seperti dikutip BBC, Selasa (22/12/2009).
Sebelumnya, majalah Times mengaku telah menemukan dokumen yang dibuat pada 2007. Dalam dokumen itu disebutkan rencana untuk melakukan tes pemicu nuklir berbahan uranium deuterida dalam empat tahun. Benda tersebut dapat digunakan sebagai inisiator neutron, sebuah komponen dari bom nuklir yang memicu ledakan.
Atas tuduhan Times tersebut, Presiden Ahmadinejad kembali menyatakan tidak ada bom nuklir di negaranya. Dia menegaskan jika teknologi nuklir negaranya digunakan untuk kepentingan masyarakat, yaitu pembangkit listrik.
Negeri para Mullah tersebut sebelumnya menghadapi ancaman sanksi PBB atas penolakannya menghentikan program pengayaan uranium. Iran bahkan mendapat ancaman sanksi baru setelah menolak perjanjian untuk mengirim uranium tingkat rendah ke luar negeri, untuk disuling menjadi bahan bakar reaktor.
Ahmadinejad juga membantah kritikan dunia internasional atas kondisi hak asasi manusia, serta tuduhan penangkapan massal atas warga lokal dan asing saat terjadi protes hasil pemilu Juni lalu. Pemilu itu mengantarkan Ahmadinejad ke tampuk pimpinan Iran untuk kedua kalinya. (faj)(jri)