Ayatullah Ali Husein Montazeri (Foto: AFP)
TEHERAN - Usai dimakamkannya tokoh Islam Ayatullah Hussein Ali Montazeri yang meninggal hari Minggu 20 Desember lalu, bentrokan kembali terjadi, saat pendukung Ayatullah Montazeri berkumpul di kediamannya di Isfahan.
Menurut keterangan para aktivis, polisi Iran berupaya untuk membubarkan secara paksa para pendukung Ayatullah Montazeri dengan menggunakan tembakan gas air mata serta tongkat kayu. Saat para pendukung ulama berpengaruh di Iran tersebut berkumpul untuk berdoa di sebuah masjid di Isfahan.
Seperti dilansir BBC, Rabu (23/12/2009), polisi Iran yang disertai pasukan keamanan, sudah lebih dulu hadir untuk menghalau para pendukung untuk mendekati masjid. Akhirnya bentrokan pun tidak dapat dihindari dan menyebabkan 50 pendukung pendukung pro-reformasi termasuk empat jurnalis Iran ditangkap oleh pihak kepolisian.
Sebelumnya saat pemakaman Montazeri di hari Senin 21 Desember lalu, sekira 10 ribu pelayat yang mendatangi upacara pemakaman terlibat bentrok dengan pihak kepolisian. Para pelayat tersebut membawa spanduk serta meneriakan slogan antipemerintahan.
Bentrokan dalam dua peristiwa terakhir ini merupakan bagian dari aksi demonstrasi pihak oposisi pemerintahan yang diperkirakan akan berlangsung besar-besaran pada akhir pekan nanti.
Sementara Kepala kepolisian Iran Brigadir Jenderal Ismaeil Ahmadi-Moqaddam mengatakan, jika pihaknya akan menindak secara tegas pelaku kericuhan para pendukung pro-reformasi.
Ayatullah Husein Ali Montazeri meninggal di usia 87 tahun pada hari Minggu. Montazeri dikenal sebagai tokoh reformis Iran dan seorang aktivis HAM. Ayatullah Montazeri sendiri merupakan pengkritik keras pemerintahan yang ia bantu dirikan bersama Ayatullah Ruhullah Khomeini.
Pada 1997 Montazeri mengkritik keras tokoh Islam pendukung pemerintahan Iran, Ayatullah Khamenei dan menyebutnya sebagai pendukung pemerintahan diktator atas nama Islam. Hingga kematiannya, Ayatullah Ali Husein Montazeri terus mendukung kalangan oposisi Iran. Dia bahkan mengeluarkan fatwa jika pemerintahan Presiden Mahmoud Ahmadinejad sebagai pemerintah diktator. (faj)
(jri)