Getting Time...

Gaza Peringati Setahun Agresi Israel

Senin, 28 Desember 2009 06:10 wib
Aksi demontrasi pembebasan rakyat Palestina (Foto: Daylife)
Aksi demontrasi pembebasan rakyat Palestina (Foto: Daylife)
GAZA – Sirene dibunyikan kemarin pukul 11.20 pagi di penjuru Palestina saat warga Jalur Gaza memperingati satu tahun agresi militer Israel di wilayah Hamas tersebut. Sirene itu menandai bom pertama yang diledakkan Israel dalam ”Operasi Cast Lead” setahun silam. Walau sudah setahun berlalu, sebagian besar pemandangan di Gaza masih berupa puing-puing gedung yang tidak dapat dibangun ulang karena blokade Israel. Beberapa unjuk rasa digelar selama peringatan tersebut.

Perdana Menteri (PM) Palestina Ismail Haniya memberikan pidato melalui televisi untuk mengenang 22 hari kelam akibat agresi brutal tersebut. ”Tujuan peringatan ini ialah bahwa perang dan pembantaian itu akan tetap dikenang oleh semua mata di dunia. Selain itu agar para pemimpin perang Zionis itu mendapat hukuman,” papar juru bicara Kementerian Dalam Negeri Hamas Ihab al-Ghussein.

Pada Sabtu, 27 Desember 2008, pesawat-pesawat tempur Israel melancarkan serangan beruntun ke wilayah Gaza yang berpenduduk 1,5 juta jiwa. Dalam satu hari serangan pertama, lebih dari 225 orang tewas seketika. Jumlah itu bertambah menjadi ribuan seiring hari. Menteri Dalam Negeri Palestina yang baru saja terpilih, Fathi Hammad menyatakan bahwa pihaknya telah merekrut sejumlah unit pasukan kepolisian untuk menggantikan posisi tentara Palestina yang tewas akibat serangan bom udara Israel.

”Ketika saya menempati jabatan ini, saya tahu bahwa akan ada banyak sekali kemungkinan terbunuh. Namun, saya percaya bahwa inilah risiko yang harus saya terima,” ungkap Hammad. Hammad kembali menegaskan bahwa prioritasnya saat ini adalah menjamin ketenteraman warga Palestina, melawan segala bentuk kriminalitas, dan membangun kembali institusi keamanan yang sempat diporak-porandakan Israel.

Agresi Israel ini telah menewaskan 350 personel kepolisian dan menghancurkan sekurang-kurangnya 60 gedung. Kini Palestina telah bangkit kembali. Sebanyak 350 anggota baru kepolisian siap bertugas, dan sebuah gedung yang pernah menjadi target bom Israel sudah selesai diperbaiki dan siap untuk digunakan kembali. Namun, perbaikan belum berhenti sampai di situ. Hammad masih memiliki tugas lain.

”Kami belum sempat mengganti kerugian atas senjata dan kendaraan (yang juga terkena bom),” paparnya. Selama ini para pejuang Hamas dengan lantangnya menolak Israel. Mereka tidak pernah sekalipun mengakui keberadaan Israel. Meski demikian, Hamas mengakui ada kemungkinan gencatan senjata dengan negeri pimpinan Benjamin Netanyahu tersebut. Selain itu, Hamas juga membantah bahwa pihaknya telah menolak kehadiran kelompok lain di Jalur Gaza demi menggulung mundur tentara Israel.

Perang di Jalur Gaza yang melibatkan Israel dan Hamas pada 2008 telah menewaskan 1.400 warga Palestina, termasuk 400 anak-anak Gaza, dan 13 penduduk Israel. Ribuan rumah, pabrik, dan tempat bisnis yang berjajar di sepanjang Jalur Gaza hancur akibat terkena serangan bom Israel. ”Hari-hari agresi Israel merupakan hari-hari gelap. Terjadi pembunuhan di setiap jalanan Gaza. Waktunya telah tiba sekarang untuk persatuan, perdamaian, keadilan, dan berakhirnya blokade Israel,” ujar Kepala Badan Darurat Gaza Dr Muawiya Hassanein yang 16 paramedisnya tewas saat mereka berjuang membantu korban-korban terluka akibat bom fosfor putih milik Israel.

Biaya USD5 juta untuk merekonstruksi bangunan yang hancur akibat perang lalu hanyalah janji kosong donor asing karena hingga saat ini warga Gaza masih banyak tinggal di tenda-tenda darurat. Salah seorang penduduk Jalur Gaza yang harus berjuang adalah Issa Hamouda. Rumah pria lanjut usia ini hancur akibat gempuran Israel. ”Hamas semakin populer. Ada atau tidaknya bantuan rekonstruksi, kami tetap akan membangun kembali rumah kami, bata demi bata,” ungkap Hamouda.

Israel mendapat kecaman keras dari komunitas internasional dan kelompok hak asasi manusia yang menilai rezim Zionis itu menggunakan kekuatan berlebihan saat agresi militer. Sayangnya, kecaman itu hanya tinggal kecaman karena hingga saat ini tidak satu pun pemimpin Israel yang diseret ke pengadilan internasional penjahat perang.(Koran SI/Koran SI/mbs)
TWITTER »
twit