Presiden Rusia Dmitry Medvedev dan Perdana Menteri Vladimir Putin (Foto: Daylife)
PRESIDEN Rusia Dmitry Medvedev tampak asyik memainkan akordion dan berputar-putar, sementara Perdana Menteri Vladimir Putin melakukan tarian tradisional sambil memukul-mukulkan tamborin ke pantatnya.
Tentu saja, itu bukan sebuah pemandangan sungguhan. Tayangan dua menit di televisi nasional Rusia pada Jumat 1 Januari 2010 itu hanyalah sebuah kartun yang secara halus menyentil dua tandem berkuasa di negeri beruang merah itu. Kartun di Channel One itu ditayangkan beberapa saat setelah Medvedev membacakan pidato resmi perayaan Tahun Baru.
Kartun itu muncul di sebuah episode khusus Mult Lichnosti (drama tentang “pengultusan”)––show dua pekanan yang mengolok-olok tokoh terkenal. Tayangan yang menampilkan suara yang mirip dengan tokoh aslinya itu mengagetkan banyak orang Rusia yang biasanya sangat serius menggambarkan pemimpin mereka. Dalam tayangan itu, dua tokoh penting tersebut sedang berdiri di Lapangan Merah dengan latar belakang istana Kremlin dan tebaran kembang api.
Baik Putin maupun Medvedev mengenakan jas dan menari-nari sekenanya. Dalam kartun itu, Medvedev dan Putin mengolok-olok Uni Eropa (UE), Amerika Serikat (AS), Presiden Komisi Olimpiade Internasional Jacques Rogge, Presiden Ukraina Viktor Yushchenko, dan bahkan mereferensi korupsi dalam birokrasi Rusia. Medvedev yang memainkan akordion juga tampak melompat dan berteriak, “Hopa,” yang disahuti Putin, ”Bagus.” “Sekarang giliranmu,” ujar Medvedev.
Putin dalam kartun lalu memukul-mukulkan tamborin ke bagian pantatnya. “Hebat!” teriak Medvedev. Dengan menggunakan untaian rima dan permainan kata-kata Rusia, kartun itu dengan sopan mencandakan situasi yang tercipta dengan adanya pembagian kuasa antara Medvedev dengan mantan presiden yang juga mentornya, Putin.
“Saya untuk kedua kalinya menyelamati rakyat pada Tahun Baru,” ujar Medvedev yang mengambil alih kuasa dari Putin pada Mei 2008. “Saya tahu. Tapi ada orang di sini yang sudah sembilan kali menyelamati mereka,” balas Putin menunjuk dirinya sendiri. “Ya, saya ingat,” sahut Medvedev. Kartun Putin lalu memukulkan tamborinnya dengan tangan di atas hak sepatunya, sebuah gerakan tarian tradisional Rusia.
Dalam tayangan itu, Medvedev dan Putin berdendang bersama, ”Kami akan bernyanyi lebih lama untuk kalian, tapi maaf kami tidak bisa meninggalkan tugas kami. Semuanya, Selamat Tahun Baru!” Putin menjadi presiden pada 31 Desember 1999 saat presiden saat itu Boris Yeltsin mengundurkan diri. Meskipun menyerahkan Kremlin kepada Medvedev dan menjadi perdana menteri, Putin diyakini masih menjadi orang nomor satu de facto di Rusia.
Kartun pemimpin Rusia yang ditayangkan di televisi dianggap tabu selama 5 tahun terakhir. Pertunjukan boneka populer Kukli (boneka) yang sering kali menyatiri Yeltsin dan lalu Putin dihentikan penayangannya pada 2002, diduga atas tekanan pemerintah. Setelah beberapa saluran televisi memperlihatkan bahwa mereka tidak takut mengkritik Kremlin di bawah Yeltsin, beberapa tahun terakhir kontrol negara ketat kembali diberlakukan dan televisi nasional jarang berpisah dari garis resmi.
Dalam pidato resmi Kremlin yang dikeluarkan beberapa saat sebelum Tahun Baru, Medvedev asli juga muncul untuk mempromosikan imej yang lebih lunak. Dia tersenyum lebar pada saat akan dimulai pidato dan berpidato dengan kasih sayang yang tidak dibuat-buat. “Kami ingin semuanya ada untuk kalian. Kami ingin kalian bahagia. Teman-teman sekalian, biarkan impian paling berharga kalian jadi nyata,” ujar Medvedev sebagaimana dikutip AFP.
Secara keseluruhan, kartun di Channel One itu mempromosikan Putin dan Medvedev yang bekerja sama dengan harmoni sempurna. Beberapa analis mengaku sudah mencium adanya perpecahan, tapi itu tidak pernah disampaikan secara eksplisit di hadapan publik. Bagi mereka yang mengikuti perkembangan politik Rusia, yang paling mencengangkan tentu adalah bahwa satir itu muncul di Channel One, televisi yang paling dikontrol pemerintah.
Dalam 10 tahun sebelumnya, di bawah pemerintahan Boris Yeltsin, ada sedikit pencerahan di saat media dibebaskan memublikasi atau menayangkan hal-hal kritis tentang pemimpin negara. Tapi, masa-masa indah itu sudah lama berlalu, terutama bagi TV dan radio yang punya pengaruh besar terhadap penduduk. Channel One memimpin sebagai corong pemerintah dengan buletinnya yang dipenuhi laporan-laporan gaya Soviet tentang aktivitas Putin dan Medvedev.
Jadi, kartun itu merepresentasikan sesuatu yang baru dalam lingkungan politik yang sangat dikontrol. Direktur Channel OneKonstantin Ernst mengungkapkan pemimpin Rusia ditambahkan pada tokoh Mult Lichnosti. “Kita harus hatihati,” ungkapnya kepada New York Times.
“Anda bisa mencemarkan orang dalam bisnis pertunjukan karena orang seperti itu menjual dirinya sendiri dan tidak menjawab masalah lain. Lagi pula, presiden dan perdana menteri juga merepresentasikan tugas yang mereka laksanakan,” imbuhnya.(Koran SI/Koran SI/mbs)