Getting Time...

Pelaku Pembantaian Filipina Mengaku Tak Bersalah

Fajar Nugraha
Selasa, 05 Januari 2010 11:18 wib
Pembantaian 23 November lalu (Foto: Reuters)
Pembantaian 23 November lalu (Foto: Reuters)
MANILA - Andal Ampatuan Jr terdakwa utama dalam kasus pembantaian massal di Selatan Filipina 23 November lalu, mengaku tidak bersalah dalam peristiwa berdarah tersebut.

Dalam pembelaannya, Ampatuan Jr yang berasal dari klan politik berpengaruh di Maguindano mengaku, tidak terlibat dalam peristiwa pembantaian yang terkait persaingan politik tersebut. Ia menolak dakwaan berlapis yang dituduhkan kepadanya.

Ampatuan Jr dianggap satu-satunya aktor utama yang terlibat langsung dalam pembunuhan yang menewaskan 57 orang di wilayah Provinsi Maguindanao, Filipina.

Korban tewas merupakan saingan politik Ampatuan yang ingin kembali menjabat sebagai Gubernur Provinsi Maguindanao. Sebagian besar korban merupakan keluarga dari saingan politik Ampatuan, yakni Esmael Mangudadatu termasuk istrinya.

Selain itu puluhan jurnalis juga turut menjadi korban dalam pembantaian ini. Sekira 20-an jurnalis dikabarkan tewas dalam peristiwa yang menggemparkan Filipina tersebut.

Selain menahan Ampatuan Jr, pemerintah Filipina juga menahan Andal Ampatuan Sr yang juga diduga memerintahkan langsung aksi penembakan dalam insiden ini. Namun hingga kini Ampatuan Sr masih belum dibawa ke pengadilan. Demikian diberitakan BBC, Selasa (5/1/2010).

Klan Ampatuan memang merupakan klan politik yang paling ditakuti di Provinsi Maguindanao. Andal Ampatuan Sr sebagai pemimpin klan, diketahui memiliki hubungan erat dengan Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo. Namun akibat peristiwa pembantaian ini, Ampatuan Sr beserta anaknya dikeluarkan dari koalisi pemerintahan.

Selain memiliki pengaruh di pemerintahan Filipina, Klan Ampatuan juga memiliki pengikut setia di daerahnya. Terbukti setelah kedua tokoh penting Klan Ampatuan ditahan oleh pemerintah, ribuan pengikutnya kabur yang memiliki persenjataan lengkap menolak untuk menyerah kepada pemerintah usai darurat militer diberlakukan setelah peristiwa pembantaian tersebut.

Kini dengan ditangkapnya dua tokoh utama dalam peristiwa pembantaian tersebut, rakyat Filipina menuntut proses pengadilan yang seadil-adilnya untuk diterapkan. Desakan tersebut juga dikeluarkan oleh kelompok jurnalis nasional dan internasional, mengingat jurnalis turut menjadi korban dalam insiden ini. (faj)(rhs)
TWITTER »
twit