Getting Time...

AS Ragukan Pemilu Myanmar

Fajar Nugraha
Selasa, 05 Januari 2010 12:39 wib
Aung San Suu Kyi, tokoh sentral pemilu Myanmar mendatang (Foto: AFP)
Aung San Suu Kyi, tokoh sentral pemilu Myanmar mendatang (Foto: AFP)
WASHINGTON - Amerika Serikat suarakan keraguannya atas pemilu Myanmar yang direncanakan akan berlangsung tahun ini.

AS meragukan jika hasil pemilu tersebut nantinya akan mewakili seluruh lapisan masyarakat Myanmar. Negeri Adidaya tersebut mendesak pemerintah Myanmar untuk merangkul kalangan oposisi dan etnis minoritas yang ada di negeri junta tersebut.

Sebelumnya pemimpin Junta Militer Myanmar Jenderal Than Shwe memberi pesan kepada rakyat Myanmar untuk menentukan pilihan yang benar. Tidak jelas apa maksud pesan tersebut, namun bisa saja diasumsikan untuk rakyatnya memilih partai-partai yang mendukung pihak militer.

Sementara AS sendiri sedang mengupayakan sebuah pendekatan terukur atas proses pemilu tersebut. Termasuk memberi penilaian apakah kubu oposisi dan etnis minoritas turut dilibatkan dalam pemilu.

"Sejauh ini belum ada tanda-tanda dari pihak Myanmar untuk melangsungkan pemilu yang adil. Hal ini terbukti dengan banyaknya pemimpin pihak oposisi yang masih berada di dalam tahanan," ucap juru bicara Kementrian Luar Negeri AS Ian Kelly seperti dikutip AFP, Selasa (5/1/2010).

Dalam keterangannya, Kelly juga mendesak pihak Myanmar untuk mengikutsertakan pemimpin oposisi seperti Aung San Suu kyi serta pemimpin kelompok etnis minoritas dalam sebuah dialog komprehensif menuju reformasi yang berlandaskan demokrasi.

"Hal tersebut (dialog) bisa menjadi langkah awal menuju sebuah pemilu yang adil dan dipercaya," lanjut Kelly.

Jika benar dilakukan tahun ini, pemilu Myanmar ini nantinya merupakan yang pertama kalinya dilakukan sejak 1990. Pada pemilu itu Partai Liga Nasional untuk Demokrasi yang dipimpin Aung San Suu Kyi saat itu meraih kemenangan besar.

Meskipun meraih kemenangan, Aung San Suu Kyi tidak pernah mendapatkan haknya sebagai pemenang pemilu. Putri dari Jendral Aung San tersebut bahkan harus menghabiskan sisa hidupnya selama dua dekade terakhir dengan status tahanan rumah.

Bahkan dengan statusnya sebagai pemenang Nobel Perdamaian di tahun 1991 tidak merubah status tahanan rumah Aung San Suu Kyi hingga kini. (faj)
(rhs)
TWITTER »
twit