Obama marahi petinggi intelijen (Foto: ABC News)
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menumpahkan kemarahannya kepada jajaran petinggi intelijen AS, saat rapat bersama beberapa badan intelijen AS.
Dalam rapat tersebut Obama menyebutkan, jika jajaran intelijen telah melakukan kekacauan dalam mencegah ancaman bom di pesawat Northwest Airline 25 Desember lalu.
Usai rapat tersebut, Presiden Obama mengeluarkan pernyataan bernada kemarahan di televisi nasional. Orang nomor satu di Amerika itu memperingatkan Dinas Intelijen AS untuk tidak melimpahkan kesalahan ke pihak lain.
"Ini (pembajakan Northwest Airline) merupakan sebuah kekacauan yang bisa saja berakhir dengan bencana. Untungnya hal tersebut dapat dicegah oleh warga yang pemberani, tetapi bukan oleh sistem yang telah ada. Hal ini tidak bisa diterima," ucap Presiden Obama, seperti dikutip seorang pejabat Gedung Putih yang menghadiri rapat.
Pada rapat yang dihadiri oleh pimpinan CIA, FBI, Secret Service dan Departemen Pertahanan Dalam Negeri AS tersebut, menyoroti kecenderungan para pemimpin Dinas Intelijen AS tersebut ingin melimpahkan kesalahan mereka pada pihak lain.
"Ada kecenderungan untuk melimpahkan kesalahan pada pihak lain dan saya (Obama) tidak akan mentolerir hal tersebut," ucapnya.
Presiden ke-44 tersebut menekankan juga hasil penyelidikan atas upaya pemboman yang gagal pada 25 Desember itu membuktikan jika pihak Intelijen AS lalai menanggapai peringatan atas upaya pemboman pesawat.
Selain itu Obama menyesalkan kinerja intelijen AS yang sebenarnya sudah mengetahui jika pelaku upaya pemboman tersebut merupakan seorang esktrimis yang menjalani pelatihan di Yaman.
"Jelas sekali jika pihak intelijen tidak menganalisa informasi tersebut secara menyeluruh. Hal ini tidak dapat diterima dan tidak bisa ditolerir," ucap Presiden Barack Obama seperti dikutip ABC News, Rabu (6/1/2010).
Kemarahan Presiden dari Partai Demokrat tersebut makin menjadi setelah intelijen AS mengetahui fakta, jika jaringan teroris Al Qaeda yang berada di Semenanjung Arab, berniat untuk menyerang bukan hanya kepentingan AS di Yaman tetapi juga di dalam wilayah AS sendiri.
"Intinya Pemerintah AS memiliki informasi lengkap untuk mengungkap plot pemboman tersebut, tetapi pihak intelijen gagal untuk mencegahnya," lanjut Obama.
Atas kegagalan ini Presiden yang sempat menghabiskan masa kecilnya di Indonesia tersebut menyatakan akan berupaya untuk mencegah kegagalan serupa, yang dimungkinkan kembali terjadi di masa mendatang.
Upaya pemboman pesawat Northwest Airline pada 25 Desember lalu dilakukan oleh Umar Farouk Abdulmutallab. Abdulmutallab merupakan warga negara Nigeria yang berhasil menaiki pesawat tersebut dan berupaya meledakan bom saat pesawat mendekati Detroit, usai melakukan penerbangan dari Amsterdam.
Abdulmutallab sendiri diketahui mendapatkan pelatihan dari Al Qaeda di Yaman, sedangkan Al Qaeda sendiri mengakui jika mereka berada dibelakang upaya pemboman yang gagal tersebut. (faj)
(rhs)