Foto: Reuters
EL ARISH - Polisi Mesir dan aktivis pro-Palestina kemarin bentrok saat konvoi bantuan berusaha memasuki Jalur Gaza, hingga mengakibatkan sedikitnya 55 orang terluka.
Sebanyak 520 orang aktivis turut dalam konvoi bantuan untuk Palestina yang dipimpin politisi karismatik anggota parlemen Inggris George Galloway. Aktivis pro-Palestina itu merobohkan gerbang di pelabuhan Sinai, El Arish, untuk memprotes keputusan Mesir yang mengharuskan konvoi mengirimkan sebagian bantuan melalui Israel. ”Aparat keamanan Mesir melempari batu ke arah 520 aktivis yang ikut dalam konvoi bantuan,” papar koresponden Reuters. Ratusan aktivis memblokade dua pintu masuk menuju pelabuhan Sinai dengan ratusan kendaraan hingga akhirnya bentrok melawan polisi Mesir.
”Sebanyak 40 aktivis dan 15 polisi terluka dalam bentrok tersebut,” ungkap sumber dari peserta konvoi dan paramedis. Sumber keamanan Mesir menyatakan, polisi menggunakan meriam air untuk membubarkan paksa demonstran meninggalkan pelabuhan Arish yang diduduki aktivis.
”Pengunjuk rasa merusak sebuah gerbang menuju kompleks pelabuhan, dan lainnya merusak dindingnya. Beberapa pengunjuk rasa membakar kardus-kardus dan mencegah pemadam mencapai lokasi,” papar Kementerian Dalam Negeri Mesir.
Para aktivis sempat membuat kesepakatan dengan polisi untuk menukar empat polisi yang disandera pengunjuk rasa selama beberapa jam, dengan tujuh anggota konvoi yang ditahan polisi. Protes terjadi karena Mesir hanya mengizinkan 139 kendaraan berisi bantuan masuk ke Gaza melalui perbatasan Rafah, 45 kilometer dari El Arish, tapi sisanya sebanyak 59 kendaraan bantuan harus melalui Israel.
”Kami menolak keputusan Mesir itu. Sangat banyak sekali, 25 persen konvoi bantuan kami harus melalui Israel dan itu tidak pernah tiba ke Gaza. Karena tidak satu pun bantuan yang pernah melalui Israel itu pernah tiba ke Gaza,” tegas Galloway.
Negosiasi alot yang terjadi antara Galloway dan delegasi anggota parlemen Turki untuk mengubah keputusan Mesir, tidak berhasil.” Rabu pagi (6/1), para aktivis memasuki pelabuhan yang dikepung ratusan polisi,” ungkap koresponden AFP.
Konvoi bantuan yang terdiri sekitar 200 kendaraan, tiba di Kota Mediterania pada Senin (4/1) setelah terjadi perselisihan dengan Kairo mengenai rute yang harus ditempuh untuk mencapai Jalur Gaza.
Namun, kedatangan konvoi itu lantas menjadi perselisihan sengit antara aktivis dan pemerintah yang melarang konvoi memasuki Sinai, Mesir, dari Yordania dengan kapal feri. Pemerintah memaksa konvoi menuju utara ke pelabuhan Lattakia, Suriah. Kairo menuduh konvoi bantuan itu berupaya membuat malu Mesir yang menolak membuka secara permanen perbatasan Rafah dan Gaza, setelah Hamas menguasai Jalur Gaza dua tahun silam. Israel dan Mesir telah memblokade dan membatasi dengan ketat perjalanan menuju dan dari Jalur Gaza sejak Hamas menguasai Gaza pada Juni 2007.
Langkah Mesir ini kadang sulit dipahami, karena sebagai negara mayoritas Muslim,pemerintah Kairo justru turut menyengsarakan rakyat Palestina yang telah menderita akibat blokade Israel dan agresi rezim Zionis awal tahun lalu yang menewaskan 1.400 warga Gaza. Mesir memberlakukan regulasi ketat terhadap aktivis asing pro-Palestina sejak mereka menggelar unjuk rasa di Mesir untuk memperingati agresi Israel di Jalur Gaza pada Desember tahun lalu. Mesir juga mengontrol pergerakan warga Palestina dan beberapa warga asing di Rafah.
Tidak hanya itu, Mesir juga membangun dinding baja di sepanjang perbatasan dengan Gaza untuk mencegah pembuatan terowongan bawah tanah. Sementara itu, Israel kembali menggelar serangan udara ke Jalur Gaza yang menewaskan satu orang warga Palestina dan melukai tiga orang lainnya. Israel membenarkan serangan brutal itu. ”Korban yang terluka dalam kondisi kritis,” papar Muawiya Hassanein,kepala gawat darurat Gaza. (syarifudin/Koran SI)(//rhs)