PM Kamboja Hun Sen. (Foto: Daylife)
PHNOM PENH - Perdana Menteri (PM) Kamboja Hun Sen kembali melancarkan perang urat syaraf kepada tetangganya,Thailand. Dia mencap Thailand sebagai teroris serta bertekad tidak akan membiarkan PM Thailand Abhisit Vejjajiva bertahan lama di kursi jabatannya.
Berbicara pada upacara kelulusan Institut Pendidikan Nasional, secara tegas Hun Sen juga menolak kemungkinan berbaikan dengan Thailand dan kerajaan negara tersebut. Hun Sen menilai, sikap Thailand yang membiarkan tentara mereka menguasai Kuil Preah Vihear tidak bisa dimaafkan dan melecehkan martabat Kamboja.
”Mulai saat ini, saya akan tidak akan berbicara lagi soal Duta Besar Thailand karena Kamboja tidak membutuhkan dia. Kamboja juga tidak akan mati tanpa kehadiran Duta Besar Thailand,” tandas Hun Sen di depan 3.000 mahasiswa. Kamboja dan Thailand saling menarik duta besar mereka masingmasing November silam sebagai wujud protes.
Abhisit memanggil pulang Duta Besar Thailand karena marah dengan sikap Kamboja yang menunjuk mantan PM Thailand sekaligus buron kasus korupsi Thaksin Shinawatra sebagai penasihat pribadi dan penasihat ekonomi Kamboja. Abhisit semakin kecewa karena Hun Sen menolak mentah-mentah permintaan Thailand yang ingin mengekstradisi Thaksin.
Hanya sehari setelah Abhisit menarik duta besarnya,Kamboja juga menarik perwakilannya di Bangkok. Perang dingin Thailand-Kamboja yang dipicu penunjukan Thaksin ini semakin memperpanas hubungan kedua negara yang sering bersitegang soal kuil Preah Vihear.
Baik Kamboja ataupun Thailand sama-sama mengakui kuil di perbatasan itu sebagai miliknya. Ucapan Hun Sen yang mengatakantidakakanmembiarkan Abhisit bertahan lama mengundangbanyak pertanyaan. Banyak pihak kemudian menghubungkan kemungkinan campur tangan Hun Sen-Thaksin dalam protes besar-besaran menentang Abhisit yang akan berlangsung akhir bulan ini.
Abhisit menduduki kursi PM Desember silam setelah anti-Thaksin yang tergabung dalam Kaus Kuning menduduki bandara.Aksi ini juga tak lepas dari sorotan Hun Sen. Dia menilai, tindakan itu sebagai perbuatan terorisme. Secara terus terang dia bahkan mengecam Menteri Luar Negeri Thailand Kasit Piromya yang ikut serta dalam aksi pendudukan bandara. Kasit menjadi musuh Hun Sen setelah mengecap PM Kamboja itu sebagai anggota gangster.
Namun, pernyataan keras Hun Sen tidak ditanggapi Thailand. Juru bicara Pemerintah Thailand Panitan Wattanyagorn mengatakan, Pemerintah Thailand tidak ingin membesar-besarkan ucapan Hun Sen yang bisa mengakibatkan hubungan kedua negara makin memburuk.
”Dia berbicara di depan rakyatnya. Kami berharap Kamboja-Thailand bisa memperbaiki hubungan,” tutur Panitan.
Perang dingin Kamboja-Thailand ini dikhawatirkan bisa meletus di perbatasan. Sekretaris Jenderal Provinsi Oddar Meanchey (provinsi paling utara Kamboja) Chhim Sivuth mengatakan, ada sedikitnya 30 tentara Thailand yang meninggalkan markas mereka sejauh 3 km dan terus bergerak ke wilayah Kamboja, Senin (11/1).
”Kami tidak mengatakan kalau mereka menempati tanah kami karena di sana belum ada garis demarkasi. Namun, kami melihat kebanyakan yang tinggal di sana adalah warga Kamboja sehingga wilayah itu adalah wilayah kami,” papar Chhim. Panitan tidak mengetahui pergerakan tentara di sana tapi dia menilai pergerakan tentara itu sebagai hal yang wajar karena mereka di perbatasan.
Sementara itu, Sivarak Chutipong sudah kembali ke Thailand setelah ditahan beberapa pekan Novemberlalu.Warga Thailandyang bekerja di bandara internasional Phnom Penh ini ditangkap Kamboja karena dipercaya membocorkan jadwal kedatangan Thaksin selama di Kamboja November silam. (AFP/BangkokPost/maesaroh)(Koran SI/Koran SI/rhs)