Getting Time...

RI-Rusia Tanpa Hambatan

Minggu, 24 Januari 2010 11:49 wib
http://www.russian-travel.net
http://www.russian-travel.net
Tepat pada 3 Februari mendatang, hubungan Rusia dan Indonesia akan genap berjalan selama 60 tahun. Selama kurun waktu tersebut, ada banyak perkembangan yang menguntungkan bagi semua pihak.

Seperti apa dan bagaimana hubungan kerja sama yang erat antardua negara ini berjalan sampai saat ini? Duta Besar Rusia untuk Indonesia Alexander A Ivanov berbagi cerita.

Hubungan Indonesia dan Rusia sudah berjalan sejak 60 tahun lalu. Bisakah Anda ceritakan bagaimana hubungan kedua negara ini terjalin?


Hubungan diplomatik kedua negara dimulai ketika pemerintah Indonesia menjawab proposal permohonan kerja sama diplomatik yang diajukan Perdana Menteri Uni Soviet kala itu. Sebelum kedua negara sepakat bekerja sama, Uni Soviet sudah memberikan dukungan besar bagi Indonesia, khususnya saat agresi militer Belanda ke Indonesia. Ketika Indonesia gencar melakukan perlawanan terhadap Belanda, Uni Soviet memberikan bantuan 17 kapal perang bagi Angkatan Laut (AL) Indonesia.

Sementara itu, spesialis militer Rusia juga dikerahkan untuk melatih tentara Indonesia. Ketika Irian Jaya (sekarang Papua) yang saat itu dikuasai Belanda ingin memisahkan diri dari Indonesia, Uni Soviet sebagai salah satu Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali memberikan dukungan demi proses yang sebaik-baiknya. Presiden RI kala itu Soekarno menginginkan Irian Jaya kembali ke Indonesia. Ketika Soekarno akhirnya memutuskan bakal melawan dengan kekuatan militer, maka Uni Soviet pun segera membantu. Ketika semuanya berawal dari hubungan persahabatan, maka hubungan yang lahir kemudian, bahkan hubungan diplomatik sekalipun akan selalu berjalan dengan baik.

Mantan Presiden RI Soekarno pernah mengunjungi Uni Soviet pada tahun 1956. Bagi kami,ini merupakan kunjungan yang luar biasa, karena Soekarno berada di Uni Soviet selama 16 hari. Beliau sempat mengunjungi stadion pusat di Moskow, dan menginginkan stadion yang serupa itu di Jakarta. Maka kemudian dibangun Gelanggang Olahraga Bung Karno. Inilah kiranya salah satu simbol persahabatan kedua negara.

Bung Karno dikenal sebagai pemimpin Indonesia yang punya hubungan dekat dengan Rusia. Saat beliau menjabat sebagai Presiden, hubungan kedua negara berkembang dengan sangat baik. Setelah Bung Karno lengser, bagaimana kelanjutan hubungan Indonesia–Rusia?

Hubungan persahabatan ini kian erat hingga sekarang. Ketika Megawati Soekarnoputri masih berkuasa, beliau mengunjungi Rusia dan menandatangani sejumlah kesepakatan bilateral di Moskow. Selanjutnya Desember 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi Rusia. Sebagai kunjungan balasan, Presiden Rusia saat itu Vladimir Putin melawat ke Jakarta pada September 2007 lalu. Hal ini merupakan kunjungan bersejarah. Karena itulah pertama kalinya pemimpin tertinggi pemerintahan Rusia mengunjungi Indonesia dalam 50 tahun terakhir.

Rusia telah mengalami perubahan setelah Uni Soviet runtuh. Di masa transisi itu, bagaimanakah kondisi hubungan Rusia dan Indonesia?


Ketika Uni Soviet runtuh, maka pemerintah kami merancang bentuk hubungan yang baru dengan Indonesia. Hubungan bilateral kali ini tidak ada lagi hubungannya dengan ideologi, melainkan edukasi, budaya, ekonomi, dan teknologi. Kini kami memfokuskan diri pada dialog untuk membahas seputar isu bilateral dan internasional. Selain Indonesia, Rusia juga turut mendukung dialog antarnegara Asia, seperti Asian Regional Forum dan Russian-Asia Dialogue Partnership.

Bagaimana hubungan kerja sama ekonomi Indonesia–Rusia selama ini?

Selama ini, kedua negara juga memiliki ikatan yang baik dalam berbagai kerja sama bidang ekonomi. Kerja sama kali ini direalisasikan lewat pembentukan Russian-Indonesia Business Forum. Tahun lalu, keduanya juga membentuk kerja sama baru lewat Russian-Indonesia Business Council. Badan statistik kami mencatat bahwa pendapatan yang diperoleh dari hasil kerja sama ekonomi mencapai angka USD1,4 miliar. Jika dibandingkan dengan pendapatan pada 2007, jumlahnya naik sebanyak 150 persen.

Rusia adalah negara kaya minyak. Demikian juga dengan Indonesia. Namun, dibandingkan dengan Rusia, penjualan minyak Indonesia kalah jauh, bahkan Indonesia terpaksa keluar dari OPEC karena terlalu banyak impor. Apakah ada kerja sama khusus dalam bidang pengelolaan dan pengolahan minyak bumi dan gas?

Rusia mendukung Indonesia dalam hal pengelolaan energi minyak bumi dan gas alam. Masalah yang dihadapi Indonesia adalah negeri ini tidak memiliki fasilitas pengelolaan yang memadai. Selain itu, Indonesia juga masih mempertahankan ladang minyak yang usianya sudah tua. Maka hadirlah Petros, hasil kerjasama perusahaan minyak swasta Rusia dan Pertamina. Tugas Petros adalah mengeksplorasi sumber minyak yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

Dalam kebudayaan, Rusia tampaknya sedang memulai menjajal bidang kerja sama ini. Apa yang mendasari ketertarikan Rusia untuk menjalin kerja sama budaya dengan Indonesia?

Bagi kami, Indonesia merupakan negara yang kaya. Negeri ini kaya akan keberagaman suku, agama, dan budaya. Untuk itulah kami mengajak Indonesia untuk melakukan dialog dan seminar antaragama yang telah terselenggara di Moskow. Dalam pertemuan ini, kami berbagi cerita seputar kehidupan beragama, para pemuka agama, dan isu-isu keberagaman yang sedang marak diperbincangkan. Kami berharap nantinya akan ada dialog-dialog serupa sehingga kita semua dapat menciptakan perdamaian dan meningkatkan toleransi. Kami mengutamakan “people to people contact”. Mengapa?

Karena bagi kami, inilah hal krusial yang harus dipahami oleh semua manusia. Kami mengajak orang-orang untuk saling berkoneksi lewat sejumlah kegiatan, seperti Russian Days, yang sempat kami adakan di Jakarta dan Yogyakarta.

Selama 60 tahun bekerja sama, apakah ada penghambat dalam memajukan atau mempertahankan hubungan yang sudah berjalan?


Sejujurnya, sejak memutuskan membangun kerja sama dengan Indonesia, kami tidak pernah mengalami hambatan apapun. Saya tegaskan: Tidak ada hambatan, bahkan hubungan diplomatik kedua negara pun tidak pernah putus. Ditambah lagi sekarang, ketika kami memutuskan tidak akan melandaskan hubungan kedua negara pada ideologi, dan beralih pada kerja sama bidang yang “lebih dekat” dengan kehidupan manusia. Kalaupun ada hambatan, maka itu hanyalah faktor manusianya saja. Untuk itulah, kedua negara harus aktif. Jika manusianya malas, maka tujuan yang diharapkan akan semakin sulit tercapai.

Sejauh ini, apakah bidang militer menjadi salah satu poin kerja sama utama Rusia dan Indonesia?


Tidak, sebenarnya bukan kerja sama bidang militer yang kami utamakan. Ketika Putin mengunjungi Jakarta pada 2007 lalu, bersama itu pula beliau dan Presiden Indonesia menandatangani kesepakatan kerja sama militer. Dua tahun terakhir, kami menyediakan tujuh pesawat Shukoi untuk Indonesia. Saya ingin menggarisbawahi sekali lagi bahwa bukanlah kerja sama militer yang menjadi keutamaan kerja sama kedua negara, melainkan edukasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, dan kebudayaan.

Kami mendengar bahwa para pelajar asal Indonesia di Moskow kerap mengadakan festival kebudayaan bersama dengan pelajar setempat. Bisakah Anda menceritakannya kepada kami?

Dubes Indonesia untuk Rusia Hamid Awaluddin tergolong sosok yang aktif. Pemerintah kami sangat dekat dengannya. Beliau mengusahakan sejumlah acara bersama yang menarik minat pelajar kami, dan tentunya pelajar Indonesia. Mereka berkumpul bersama, menyanyi, dan menarikan tarian tradisional dari masing-masing negara di sejumlah universitas di Moskow dan St Petersburg. Menurut kami, hal ini sangat efektif untuk membangun persatuan di antara pelajar dari kedua negara.

Tahun lalu pemerintah Rusia mengadakan “Russian Days” di Indonesia. Sudah berapa kalikah event ini digelar?

Russian Days pertama kali diadakan pada 2007. Saat itu, kami mengajak penari balet dan musisi klasik negeri kami untuk tampil di Indonesia. Kami sangat bangga tarian balet yang menjadi salah satu identitas bangsa kami. Dan kami bangga melihat betapa antusiasnya masyarakat Indonesia untuk menyaksikan para penari balet kami tampil di sini. Berbicara mengenai balet, kami memiliki sekolah balet di Indonesia yang dikelola oleh Farida Oetojo. Sekolah ini bernama “Sumber Cipta”. Anda tahu, Farida Oetojo memulai karier baletnya di Rusia.

Hal ini menunjukkan betapa dekatnya hubungan Rusia dan Indonesia dalam hal seni dan budaya. Untuk itu, saya bangga karena Farida akhirnya mengajar balet -tarian yang dipelajarinya di negeri kami, di Jakarta. Malam Tahun Baru lalu, anak-anak staf Kedutaan Besar (Kedubes) Rusia di Indonesia mengadakan pertunjukan seni di Taman Ismail Marzuki. Mereka menyanyi dan menari. Para penonton juga memberikan tepuk tangan meriah bagi anak-anak kami.

Adakah program pertukaran pelajar antara Rusia dan Indonesia?


Ya, tentu saja ada, walau jumlahnya cukup sedikit. Para mahasiswa kami belajar di dua universitas negeri di Indonesia, yaitu di Universitas Indonesia, Jakarta dan Universitas Padjadjaran, Bandung. Kami juga memiliki “proyek kakak-beradik” antara Moskow dan Jakarta. Anda tahu, Moskow dan Jakarta memiliki hubungan saudara (tertawa).

Juli tahun lalu, Moskow mengirimkan sejumlah besar buku ke Jakarta sekaligus mengadakan pameran buku di ibu kota Indonesia ini. Melihat kondisi Gelora Bung Karno yang sudah termakan usia, karena dibangun pada 1962, maka kami merasa perlu merenovasi dan memodernisasi stadion ini.
(Koran SI/Koran SI/mbs)
TWITTER »
twit