Pimpinan Taliban Pakistan Hakimullah Mehsud (Foto: The Times)
LONDON - Konferensi Internasional Afghanistan yang berlangsung di London, Inggris akan membicarakan rencana bantuan dana yang akan diberikan kepada Taliban.
Beberapa tokoh penting dipastikan datang untuk menghadiri konferensi ini. Tokoh-tokoh tersebut di antaranya Presiden Afghanistan Hamid Karzai, Menlu AS Hillary Clinton, Sekjen PBB Ban Ki-Moon dan dipimpin oleh Menlu Inggris David Miliband.
Sementara sekitar 60 delegasi dari beberapa negara yang turut serta dalam konferensi ini akan berkumpul untuk merancang strategi pembangunan di Afghanistan. Sebagian besar dari rencana tersebut akan berbasis pada memetakan peringkat anggota Taliban dari yang paling rendah hingga teratas.
Anggota delagasi juga akan berusaha memikirkan cara untuk memperlemah kepemimpinan di kelompok militan tersebut. Mereka juga akan membahas pelimpahan tanggung jawab keamanan dari pihak barat kepada militer dan kepolisian Afghanistan.
Konferensi ini diharapkan akan menyetujui aliran dana sebesar USD500 juta atau sekira Rp4,6 triliun (Rp9,390 per dolar), yang akan dikucurkan selama lima tahun untuk "membeli" Taliban. Diharapkan dengan dana ini dapat membantu anggota Taliban yang ingin keluar dari kelompok militan tersebut. Demikian diberitakan Timesonline, Kamis (28/1/2010).
Jerman yang juga turut serta dalam konferensi ini, setuju untuk memberikan bantuan sebesar USD70 juta kepada dana bantuan untuk Taliban tersebut selama lima tahun ke depan. Sementara sisanya sebagian besar akan diberikan oleh bantuan dari Jepang.
Sebagai gantinya, pemimpin Afghanistan dihadapkan pada pilihan untuk menyetujui tim monitoring internasional, yang akan memperkuat kebijakan anti korupsi yang telah dicanangkan oleh Pemerintahan Presiden Hamid Karzai.
Namun sepertinya rencana ini akan menemui kegagalan, mengingat Taliban sendiri memperkirakan pendekatan macam itu akan berakhir kegagalan. Mereka juga menilai bantuan tersebut hanya sebuah tipuan.
Dalam pernyataannya yang dimuat dalam website milik mereka, kelompok militan tersebut menyatakan jika insentif ekonomi tidak akan menarik keluar para pejuang mereka. "Kami berjuang bukan untuk uang, lahan ataupun posisi, tetapi kami berjuang untuk Islam dan akan menghentikan kehadiran pasukan asing di Afghanistan," menurut keterangan Taliban dalam website mereka.
Penolakan Taliban ini dipastikan akan makin mempersulit operasi militer pasukan koalisi yang dipimpin AS di Afghanistan. Sebelumnya kekerasan banyak menimbulkan korban pada pasukan AS dan Inggris di negara konflik tersebut. Jumlah pasukan AS yang tewas sejak invasi di tahun 2001 lalu, berjumlah 882 jiwa, sedangkan pasukan Inggris yang tewas berjumlah 251 jiwa. (faj)(rhs)