Getting Time...

Tenaga Kerja Asing di Lebanon Mulai Berontak

Fajar Nugraha
Sabtu, 30 Januari 2010 09:49 wib
Ilustrasi: Istimewa
Ilustrasi: Istimewa
BEIRUT - Perlawanan dan pemberontakan pekerja kepada majikannya menjadi perkembangan menarik di Lebanon dalam setahun terakhir. Banyaknya tindakan kekerasan serta penghinaan menjadi salah satu penyebab mengapa pekerja imigran di sana mengambil langkah berani untuk melawan majikannya lewat pengadilan.

Nanda merupakan salah satu pekerja yang dengan berani menyeret majikannya ke meja hijau. Wanita asal Sri Lanka ini datang ke ibu kota Lebanon yakni Beirut pada 2009 lalu.

Nanda menaytakan majikannya sangat pelit dalam memberi makan. Dia hanya diberi jatah seiris roti tiap harinya. Sang majikan menganggap dia terlalu gemuk sehingga jatah makannya harus dikurangi. "Saya selalu kelaparan," akunya.

Kepiluan Nanda sedikit hilang saat dia bertemu salah seorang relawan yayasan Caritas Lebanon. Yayasan sosial dan lembaga amal ini menawarkan tempat perlindungan bagi korban kekerasan domestic. Nanda pun kemudian bergabung dengan sekelompok imigran dukungan Caritas yang menuntut majikannya.

"Kami berharap bisa menemukan keadilan untuknya," papar Dima Haddad, pekerja social di Carits Lebanon yang memberi Nanda bantuan hukum. "Pekerja lain yang tidak memiliki gaji selama bertahun- tahun sudah mengatur segala langkah guna memenangkan kompensasi," tambah Haddad.

Seperti halnya Arab Saudi dan Kuwait, Lebanon merupakan salah satu negara Timur Tengah yang menjadi tujuan utama bagi tenaga kerja asing Asia dan Afrika. Sri Lanka, Filipina dan Ethiopia merupakan tiga negara yang paling banyak mengirim tenaga kerjanya ke Lebanon.

Namun, karena banyaknya pelanggaran terhadap tenaga kerjanya, Filipina, Ethiopia dan Madagaskar sudah menghentikan pengiriman tenaga kerja ke wilayah itu. Tingginya pelanggaran bahkan membuat banyak tenaga kerja di sana bunuh diri. Human Rights Watch (HRW) memperkirakan tiap minggunya ada satu orang tenaga kerja bunuh diri karena putus asa. (Koran SI/Koran SI)(rhs)
TWITTER »
twit