Protes penahanan Siddiqui (Foto: Reuters)
ISLAMABAD - Anggota keluarga ilmuwan Pakistan Aafia Siddiqui, 37, yang dinyatakan bersalah karena berusaha membunuh pegawai Amerika Serikat di Afghanistan, menyebut bahwa Siddiqui tidak bersalah.
Kemarin, mereka mengecam keputusan juri AS pada Rabu (3/2) tersebut. Siddiqui merupakan seorang ibu dan pakar neuroscientist lulusan Massachusetts Institute of Technology yang dituduh bersalah untuk semua dakwaan.
Ibu Siddiqui juga mengecam pemerintah Pakistan yang merupakan aliansi AS dalam perang di Afghanistan. "Apa yang terjadi itu jelas menunjukkan tidak seriusnya pemerintah kita agar dia dibebaskan," tegas Ismat.
Kakak perempuan Aafia Siddiqui, Fowzia, juga mengecam sistem peradilan AS. "Keputusan itu menunjukkan sistem peradilan Amerika tidak dapat memberikan keadilan pada warga tidak bersalah. Dia tidak bersalah.
Dia tidak pernah menjadi orang yang fanatik, tapi dia mencintai orang lain dan makhluk Allah lain yang mengalami penderitaan dan tidak pernah menghindar untuk membantu mereka," ujar Fowzia yang berprofesi sebagai dokter.
Fowzia mengklaim, adiknya itu diculik intelijen Pakistan saat dalam perjalanan penerbangan dari Karachi ke Islamabad. "Dia diculik orang suruhan (Presiden Pakistan saat itu) Pervez Musharraf saat dalam perjalanan ke bandara untuk meninggalkan Karachi menuju Islamabad. Dia lalu diserahkan pada orang Amerika.
Jadi, bagaimana dia pergi ke Afghanistan dengan kemauan sendiri?" tuturnya. Pengamat mengakui, kasus yang menyeret Siddiqui itu sarat dengan kepentingan intelijen Pakistan dan AS. Karena itu, sulit bagi Siddiqui untuk lolos dari keputusan pengadilan itu.
Sementara itu, kemarin, sebuah bom meledak di Pakistan dan menewaskan delapan orang, termasuk tiga tentara AS dan anak-anak. Ledakan bom terjadi saat pembukaan sebuah sekolah yang baru saja dibangun setelah serangan sebelumnya.
Tentara AS yang tewas itu sedang melatih pasukan paramiliter dan melakukan perjalanan dalam konvoi dengan tentara Pakistan, wartawan, dan pejabat pemerintah untuk membuka sekolah untuk pelajar perempuan. Serangan itu merupakan pertama kali tentara AS tewas dalam serangan jenis ini di Pakistan. (Koran SI/Koran SI/Koran SI)(//rhs)