Viktor Yanukovich. (Foto: Ist)
KIEV - Pemimpin oposisi Ukraina Viktor Yanukovich kemarin mengklaim menang tipis pada pemilu yang digelar Minggu (7/2), mengalahkan rivalnya Yulia Tymoshenko yang menolak menyerah.
Dari 96,62 persen suara yang telah dihitung, Yanukovich meraih 48,38 persen suara dan Tymoshenko mendapatkan 46,01 persen suara.
Dengan kemenangan tipis 2,37 persen, Yanukovich akan mengantarkan Ukraina lebih condong ke Moskow. Pejabat Komisi Pemilu Pusat Ukraina Myhkailo Okhendovsiky mengatakan kepada Reuters bahwa Yanukovich akan tetap menjadi pemenang pada pemilu presiden. Alasannya, sisa suara yang belum dihitung berasal dari basis kekuatan Yanukovich di selatan dan timur. Sedangkan suara Tymoshenko bakal menurun. Dalam pidato kemenangan yang digelar pada Minggu malam waktu setempat (7/2), Yanukovich mengutarakan bahwa pemilu telah membuka “babak baru” dalam sejarah Ukraina.
Dia juga menjamin akan melakukan apapun untuk menjamin semua rakyat Ukraina merasakan nyaman dan aman. Sebenarnya Yanukovich dinyatakan sebagai pemenang pemilu pada 2004. Namun, dia harus menyerahkan kemenangannya karena adanya tuduhan penggelembungan suara.Melalui demonstrasi massal yang dikenal dengan bernama Revolusi Oranye, kemenangan Yanukovich saat itu dianulir. Ketika itu Revolusi Oranye menjadi harapan bagi rakyat Ukraina dari kekuasaan lama dan memulai kehidupan baru bagi 46 juta warganya.
Ukraina merupakan wilayah yang menjadi ladang perebutan pengaruh antara Rusia dan Uni Eropa. Namun, mimpi itu ternyata tak terealisir karena krisis politik dan krisis politik yang makin parah. Kemenangan Yanukovich tampaknya menjadi bukti bahwa para pemimpin Revolusi Oranye gagal menjalankan janji-janji manisnya. Yanukovich menegaskan,kini waktunya bagi pesaingnya untuk mundur. “Saya kira Yulia Tymoshenko harus bersiap-siap mundur,” katanya. (AFP/Rtr/BBC/andika hm)(Koran SI/Koran SI/rhs)