Getting Time...

Ditangkap, Aktivis Pro Palestina Menolak Dideportasi

Fajar Nugraha
Selasa, 09 Februari 2010 17:35 wib
Aktivis banyak ditangkap di Palestina (Ilustrasi: Ist)
Aktivis banyak ditangkap di Palestina (Ilustrasi: Ist)
RAMALLAH - Dua orang aktivis pro-Palestina yang berasal dari Australia dan Spanyol, menolak untuk dideportasi ke negara asalnya, setelah ditangkap dalam sebuah penggerebekan di kota Ramallah, Tepi Barat.

Penangkapan atas dua aktivis perempuan berbeda negara ini terjadi menjelang subuh pada hari Minggu 7 Februari waktu setempat. Bridget Chappel dari Australia dan Ariadna Jove Marti yang kewarganegaraan Spanyol, diciduk dari apartemen yang mereka tinggal di Ramallah.

Penahanan yang dilakukan oleh militer Israel ini berdalih atas penyalahgunaan visa mereka. Namun sesaat sudah ditangkap, keduanya kemudian dibebaskan oleh pihak Mahkamah Agung Israel, yang menyatakan Israel tidak memiliki yurisdiksi di wilayah Ramallah.

Kedua warga asing tersebut akhirnya dibebaskan lewat jaminan, namun dilarang kembali untuk masuk ke wilayah Ramallah. Menurut pengakuan kedua korban, saat penangkapan pihak militer Israel mendesak keduanya untuk menandatangani surat deportasi atau akan dipenjara selama enam bulan.

Keduanya kemudian menolak desakan tersebut dan dibawa ke penjara. "Dari pukul 02.00 hingga 05.00 pagi, kami tidak diberikan makanan ataupun akses telepon, untuk memberi kabar kepada teman dan pengacara untuk menjelaskan masalah," ucap aktivis Australia Bridget Chappell seperti dikutip AFP, Selasa (9/2/2010).

Chappel sendiri mengakui, jika visa yang ia miliki sudah habis pada November silam. Namun ia sudah mengatur hal tersebut dengan pihak imigrasi pada 1 Maret mendatang. Selama menunggu untuk memperpanjang visanya, Chappel diharuskan tetap tinggal di Ramallah.

"Penangkapan kami bukan masalah visa. Pihak Israel berusaha untuk memaksa keluar tiap pihak yang ingin membantu perjuangan warga Palestina," komentar Chappell. "Siapapun yang membantu perjuangan rakyat Palestine ditangkap, setelah adanya operasi penangkapan terhadap para aktivis saat ini," lanjut Chappell.

Wanita asal Canberra, Australia itu pun sepertinya tidak mau beranjak pergi meninggalkan Palestina. Dirinya berniat untuk tetap berada di wilayah konflik tersebut, sementara tim pengacaranya memiliki waktu lima hari untuk mengajukan banding atas deportasinya.

Selama sebulan terakhir Israel telah menangkap aktivis asing dan mendeportasi enam orang di antaranya. Sebagian besar aktivis tersebut berasal dari kelompok Stop The Wall, sebuah kelompok aktivis yang membantu melakukan demo rutin tiap minggu yang menentang tembok pemisah yang di bangun Israel di sekitar Tepi Barat. (faj)(rhs)
TWITTER »
twit