Getting Time...

Pertama, China Gelar Sensus Polusi

Hermanto
Rabu, 10 Februari 2010 16:21 wib
Polusi udara di sektor pertanian. (Foto : AFP)
Polusi udara di sektor pertanian. (Foto : AFP)
BEIJING - China berambisi untuk mengkalkulasikan dampak dari pertumbuhan pembangunan yang melesat terhadap lingkungan. Mengatasi rasa penasaran tersebut, China melakukan sensus polusi nasional.

Sensus populasi pertama kalinya itu, memetakan sekira enam juta industri, rumah tangga, dan pertanian, yang menghasilkan limbah.

Negara penghasil polusi terbesar di dunia itu pun memproyeksikan, bahwa tingkat polusinya akan mencapai puncaknya.

Saat ini, China mencoba menyeimbangkan antara perkembangan ekonominya dengan penghijauan. Pihak kementrian pun tengah mempelajari adanya kemungkinan untuk pajak lingkungan. Wakil Menteri Perlindungan Lingkungan China Zhang Lijun mengatakan, pemerintah memiliki waktu satu tahun untuk mengimplementasikan hasil sensus tersebut. Hasilnya nanti akan diimplementasikan dalam bentuk perencanaan lingkungan lima tahun ke depan.

Demikian dikatakan Zhang Lijun saat konferensi pers seperti yang dikutip Associated Press, Rabu  (10/2/2010).

Sementara itu, hasil sensus masih belum diumumkan demi menghindari kritikan masyarakat. Data itu hanya bisa diakses oleh para pejabat pemerintahan dan kementrian terkait.

Para aktivis lingkungan berharap data itu segera dipublikasikan. "Sehingga masyarakat bisa terlibat dalam monitoring polusi negara penghasil polusi terbesar dan wilayah-wilayah yang paling parah terkena polusi," ujar Kepala Program Penelitian Kelompok Iklim China Yu Jie, seperti dikutip Associated Press, Rabu (10/2/2010).

Survei yang dilaksanakan selama dua tahun dan melibatkan 570 ribu staff itu, menempatkan China sebagai negara terdepan dalam pemetaan yang detail. Pasalnya, sensus itu dilengkapi dengan pentunjuk penghasil polusi terbanyak dan letak lokasinya.

"Hal ini akan menjadi perkembangan yang besar. Tapi apabila data tersebut hanya bisa diakses oleh badan pemerintah, maka fungsi kelompok sosial  tidak bekerja sama sekali," ujarnya.(rhs)
TWITTER »
twit